Sabtu, 29 Agustus 2026

Kalau Manusia Bisa Baik, Apakah Agama Masih Dibutuhkan?



Kalau Manusia Bisa Baik Tanpa Agama, Apakah Agama Masih Dibutuhkan?

Ada dua kalimat yang terdengar mirip tapi sebenarnya sangat berbeda yakni kalimat
"Saya bisa berbuat baik tanpa agama." Dan kalimat
"Saya tidak butuh agama untuk tahu mana yang benar dan salah."

Sebagian ateis sering memakai kalimat pertama untuk membuktikan kalimat kedua.

Pertanyaannya biasanya berbunyi seperti pada gambar bahwa "Kalau orang bisa menjadi baik tanpa agama, untuk apa agama masih dibutuhkan?"

Sekilas, pertanyaan ini terdengar rasional dan masuk akal.
Dan memang benar bahwa seseorang yang tidak beragama bisa saja menjadi jujur, dermawan, menyayangi keluarganya, dan tidak menyakiti orang lain. Islam tidak menyangkal fakta empiris ini.

Namun, di sinilah letak kekeliruan premisnya karena kemampuan seseorang untuk berbuat baik tidak otomatis membuktikan bahwa manusia tidak membutuhkan agama.

Mengapa? Mari kita mulai dari pertanyaan yang paling dasar misalnya Apakah sesuatu seperti minuman keras atau judi itu baik atau buruk? Dan "baik" menurut siapa?
Coba tanyakan langsung utamanya pada ateis apakah meminum miras adalah perbuatan baik?

Kebanyakan orang bahkan yang tidak beragama sekalipun akan ragu untuk menjawab "ya" secara tegas. Tapi kalau jawabannya "tidak", lalu kenapa masih banyak yang melakukannya dan menganggapnya wajar?

Karena seseorang bisa saja berkata bahwa
"Saya minum alkohol untuk menenangkan pikiran dari stres."
Atau "Saya berjudi sedikit untuk hiburan, dan saya merasa senang."

Jika ukurannya adalah perasaan individu atau manfaat parsial maka hal itu bisa dinilai "baik" bagi pelakunya.

Di sinilah Islam memperlihatkan keindahan cara pandangnya. Al-Qur'an tidak menutup mata bahwa pada khamar dan judi memang ada manfaatnya bagi manusia—seperti hiburan, rasa tenang sesaat, atau keuntungan materi.
Namun, Islam menetapkan prinsip dasar bahwa "Dosa/mudaratnya jauh lebih besar daripada manfaatnya." (QS. Al-Baqarah: 219)

Akal manusia sering kali terjebak melihat manfaat yang pendek dan subjektif lalu mengabaikan kerusakan jangka panjangnya.

Sejarah modern membuktikan pola ini. Contohnya adalah Amerika. Ternyata AS pada era Prohibisi (1920–1933) melarang total miras melalui Amendemen ke-18 karena sadar akan mudaratnya yang besar terhadap KDRT, kemiskinan dan keretakan sosial. Ini membuktikan bahwa tanpa agama pun, akal sehat manusia bisa menangkap bahaya miras.
Namun, hanya dalam 13 tahun, hukum itu dicabut kembali. Ketika terjadi krisis ekonomi (Great Depression), pemerintah butuh pemasukan pajak cepat. Sesuatu yang kemarin diakui berbahaya dan dilarang, mendadak dilegalkan kembali demi kalkulasi untung-rugi ekonomi.

Persoalan utamanya ada di sini bahwa jika ukuran baik dan buruk diserahkan sepenuhnya kepada manusia, maka standar moral akan selalu bergeser.
Hari ini sesuatu dianggap buruk, besok bisa dianggap boleh hanya karena ada manfaat ekonomi atau kesenangan sesaat yang diinginkan mayoritas.

Islam hadir bukan sekadar memberi imbauan umum "Jadilah orang baik." Lebih dari itu, Islam memberikan petunjuk objektif untuk menimbang mana manfaat sejati dan mana mudarat yang terselubung.
Dalam Al-Qur'an, Allah tidak berfirman: "Jangan lakukan jika sudah merusak hidupmu."
Allah memerintahkan "Maka jauhilah." (QS. Al-Ma'idah: 90)

Hukum Tuhan tidak menunggu manusia jatuh hancur atau mengalami krisis terlebih dahulu baru dinyatakan berbahaya.

Maka pertanyaan mendasarnya bukanlah
"Bisakah manusia berbuat baik tanpa agama?"
Karena jawabannya jelas bisa.
Pertanyaan yang jauh lebih krusial adalah "Ketika manusia berbeda pendapat tentang apa yang baik dan buruk atau terjebak pada manfaat semu maka siapa yang berhak menentukan standar akhirnya?"

Jika jawabannya adalah manusia, maka moralitas akan selalu relatif dan berubah mengikuti selera zaman. Namun jika ada Sang Pencipta, bukankah masuk akal jika Dia yang menetapkan petunjuk tentang bagaimana manusia seharusnya hidup?

Agama dibutuhkan bukan semata karena manusia tidak mampu berbuat baik. Agama dibutuhkan karena manusia bukan hanya butuh kemampuan untuk memilih, tetapi juga butuh petunjuk mutlak tentang apa yang benar untuk dipilih.

#dakwah #islam #akidah #ateisme #moralitasislam #alquran #renunganislami

Simber:
https://www.facebook.com/share/p/1YeGvV1cx8/ 

0 comments:

Posting Komentar