Catatan Saat Berdua

Catatan Tentang Kita Berdua tak Akan Ada Akhirnya .

Catatan Keluargaku

Ini adalah Catatan Kebahagian kita Kebahagiaan Dalam Bingkai Keluarga.

Catatan Tentang Kita

Catatan yang Paling Indah adalah Kita Jadikan Keluarga ini Tempat Kebahagiaan.

Catatatn : Anakku

Akan Tetap Terselip Diantara Untaian Doa kami Untuk Kebahagian Dunia dan Akhirat mu.

Catatan Abadi

Seandainya Aku Dihidupkan Kembali, Aku Akan Tetap Memilih Kalian Jadi Bagian Keluargaku.

Catatan : Aku

Ini Adalah Catatan Agar Aku Tak Lupa Bahwa banyak Catatan tentang Kita.

Catatan : Kita

Aku, Kau dan Kalian adalah Kita.

Catatan : Bahagia

Catatan Penting : Kita Raih Bahagia Bersama.

Catatan : Dirimu

Kalau Boleh Jujur...Aku Beruntung Kau Jadi bagian Hidupku.

Sabtu, 29 Agustus 2026

Menikmati Kebersamaan






















Hari ini (Jumat, 28/8/2026) kami menikmati kebersamaan di Gura Kitchen di Berastagi. Kebersamaan ini benar-benar kami nikmati.

Kalau Manusia Bisa Baik, Apakah Agama Masih Dibutuhkan?



Kalau Manusia Bisa Baik Tanpa Agama, Apakah Agama Masih Dibutuhkan?

Ada dua kalimat yang terdengar mirip tapi sebenarnya sangat berbeda yakni kalimat
"Saya bisa berbuat baik tanpa agama." Dan kalimat
"Saya tidak butuh agama untuk tahu mana yang benar dan salah."

Sebagian ateis sering memakai kalimat pertama untuk membuktikan kalimat kedua.

Pertanyaannya biasanya berbunyi seperti pada gambar bahwa "Kalau orang bisa menjadi baik tanpa agama, untuk apa agama masih dibutuhkan?"

Sekilas, pertanyaan ini terdengar rasional dan masuk akal.
Dan memang benar bahwa seseorang yang tidak beragama bisa saja menjadi jujur, dermawan, menyayangi keluarganya, dan tidak menyakiti orang lain. Islam tidak menyangkal fakta empiris ini.

Namun, di sinilah letak kekeliruan premisnya karena kemampuan seseorang untuk berbuat baik tidak otomatis membuktikan bahwa manusia tidak membutuhkan agama.

Mengapa? Mari kita mulai dari pertanyaan yang paling dasar misalnya Apakah sesuatu seperti minuman keras atau judi itu baik atau buruk? Dan "baik" menurut siapa?
Coba tanyakan langsung utamanya pada ateis apakah meminum miras adalah perbuatan baik?

Kebanyakan orang bahkan yang tidak beragama sekalipun akan ragu untuk menjawab "ya" secara tegas. Tapi kalau jawabannya "tidak", lalu kenapa masih banyak yang melakukannya dan menganggapnya wajar?

Karena seseorang bisa saja berkata bahwa
"Saya minum alkohol untuk menenangkan pikiran dari stres."
Atau "Saya berjudi sedikit untuk hiburan, dan saya merasa senang."

Jika ukurannya adalah perasaan individu atau manfaat parsial maka hal itu bisa dinilai "baik" bagi pelakunya.

Di sinilah Islam memperlihatkan keindahan cara pandangnya. Al-Qur'an tidak menutup mata bahwa pada khamar dan judi memang ada manfaatnya bagi manusia—seperti hiburan, rasa tenang sesaat, atau keuntungan materi.
Namun, Islam menetapkan prinsip dasar bahwa "Dosa/mudaratnya jauh lebih besar daripada manfaatnya." (QS. Al-Baqarah: 219)

Akal manusia sering kali terjebak melihat manfaat yang pendek dan subjektif lalu mengabaikan kerusakan jangka panjangnya.

Sejarah modern membuktikan pola ini. Contohnya adalah Amerika. Ternyata AS pada era Prohibisi (1920–1933) melarang total miras melalui Amendemen ke-18 karena sadar akan mudaratnya yang besar terhadap KDRT, kemiskinan dan keretakan sosial. Ini membuktikan bahwa tanpa agama pun, akal sehat manusia bisa menangkap bahaya miras.
Namun, hanya dalam 13 tahun, hukum itu dicabut kembali. Ketika terjadi krisis ekonomi (Great Depression), pemerintah butuh pemasukan pajak cepat. Sesuatu yang kemarin diakui berbahaya dan dilarang, mendadak dilegalkan kembali demi kalkulasi untung-rugi ekonomi.

Persoalan utamanya ada di sini bahwa jika ukuran baik dan buruk diserahkan sepenuhnya kepada manusia, maka standar moral akan selalu bergeser.
Hari ini sesuatu dianggap buruk, besok bisa dianggap boleh hanya karena ada manfaat ekonomi atau kesenangan sesaat yang diinginkan mayoritas.

Islam hadir bukan sekadar memberi imbauan umum "Jadilah orang baik." Lebih dari itu, Islam memberikan petunjuk objektif untuk menimbang mana manfaat sejati dan mana mudarat yang terselubung.
Dalam Al-Qur'an, Allah tidak berfirman: "Jangan lakukan jika sudah merusak hidupmu."
Allah memerintahkan "Maka jauhilah." (QS. Al-Ma'idah: 90)

Hukum Tuhan tidak menunggu manusia jatuh hancur atau mengalami krisis terlebih dahulu baru dinyatakan berbahaya.

Maka pertanyaan mendasarnya bukanlah
"Bisakah manusia berbuat baik tanpa agama?"
Karena jawabannya jelas bisa.
Pertanyaan yang jauh lebih krusial adalah "Ketika manusia berbeda pendapat tentang apa yang baik dan buruk atau terjebak pada manfaat semu maka siapa yang berhak menentukan standar akhirnya?"

Jika jawabannya adalah manusia, maka moralitas akan selalu relatif dan berubah mengikuti selera zaman. Namun jika ada Sang Pencipta, bukankah masuk akal jika Dia yang menetapkan petunjuk tentang bagaimana manusia seharusnya hidup?

Agama dibutuhkan bukan semata karena manusia tidak mampu berbuat baik. Agama dibutuhkan karena manusia bukan hanya butuh kemampuan untuk memilih, tetapi juga butuh petunjuk mutlak tentang apa yang benar untuk dipilih.

#dakwah #islam #akidah #ateisme #moralitasislam #alquran #renunganislami

Simber:
https://www.facebook.com/share/p/1YeGvV1cx8/ 

Selasa, 25 Agustus 2026

Penjelasan Tentang Allah SWT Bersumpah dengan Ciptaannya



Dalam ilmu tafsir Al-Qur'an, pembahasan tentang Allah SWT yang bersumpah menggunakan nama makhluk atau ciptaan-Nya disebut dengan Ilmu Aqsamul Qur'an (Ilmu Sumpah-Sumpah Al-Qur'an).
Ada perbedaan hukum dan makna yang sangat mendasar antara sumpah yang diucapkan oleh Allah SWT dengan sumpah yang diucapkan oleh manusia.

A. Mengapa Allah Bersumpah dengan Ciptaan-Nya?
Para ulama tafsir (seperti Imam Al-Zarkashi dan Imam As-Suyuthi) menjelaskan beberapa alasan utama di balik sumpah Allah menggunakan makhluk:

1. Menegaskan Urgensi Berita (Taukid)
Masyarakat Arab jahiliyah sangat meragukan perkara gaib seperti hari kiamat, surga, neraka, dan wahyu. Allah menggunakan gaya bahasa sumpah (qasam) yang akrab dalam budaya mereka untuk menegaskan bahwa isi berita tersebut mutlak benar dan pasti terjadi.

2. Menunjukkan Keagungan Sang Pencipta
Ketika Allah bersumpah demi matahari, bulan, waktu fajar, atau malaikat, Allah sedang mengarahkan perhatian manusia kepada kehebatan ciptaan tersebut. Hebatnya ciptaan itu adalah bukti langsung dari keagungan, kecerdasan, dan kekuasaan mutlak Allah sebagai Pencipta (Khaliq).

3. Isyarat Adanya Manfaat Besar
Makhluk yang dijadikan sumpah oleh Allah selalu memiliki peran, fungsi, atau manfaat yang sangat besar bagi kelangsungan hidup manusia dan alam semesta (misalnya: waktu, angin, atau buah tin).

B.  Kaidah Bahasa: Apakah Ada Kata yang Disembunyikan?
Sebagian ulama tafsir (seperti kalangan ulama Mu'tazilah dan sebagian ulama Aswaja) menjelaskan bahwa dalam kaidah bahasa Arab, sumpah Allah dengan makhluk mengandung kata yang disembunyikan (mahdzuf), yaitu kata "Rabb" (Tuhan).

Contoh: Kalimat "Demi Matahari" (Wasy-syamsi) pada hakikatnya bermakna "Demi Tuhan pemilik Matahari" (Wa Rabbi sy-syamsi).

Dengan demikian, pada hakikatnya Allah tetap bersumpah demi keagungan Diri-Nya sendiri selaku Pemilik dan Pengatur makhluk tersebut.

C.  Perbedaan Hukum Sumpah: Allah vs Manusia
Ada batasan syariat yang sangat kontras mengenai hal ini:

* Bagi Allah SWT: Allah adalah Penguasa Mutlak. Allah bebas bersumpah dengan apa saja dari makhluk-Nya sesuai kehendak-Nya untuk menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya.

* Bagi Manusia: Manusia haram hukumnya bersumpah demi nama makhluk (seperti demi Ka'bah, demi Rasulullah, demi ibu, demi langit, dll). Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang bersumpah, maka bersumpahlah demi Allah atau diamlah" (HR. Bukhari & Muslim). Bersumpah dengan nama selain Allah bagi manusia dapat menjerumuskan pada kesyirikan.

Contoh Sumpah dan Korelasinya
Sumpah Allah (Qasam) selalu diikuti oleh isi sumpah (Jawabul Qasam). Keduanya selalu memiliki hubungan logis yang sangat indah:

* Surat Al-Mursalat: Allah bersumpah demi malaikat/angin yang perkasa → Untuk menegaskan bahwa Hari Kiamat pasti terjadi.

* Surat Al-Ashr: Allah bersumpah demi Waktu → Untuk menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian jika menyia-nyiakan waktu tersebut.




Sabtu, 22 Agustus 2026

3 Sikap Orang Islam Atas Jalan Yang Lurus



KHUTBAH JUMAT

ADA 3 KELOMPOK SIKAP MANUSIA ATAS JALAN YANG LURUS

OLEH : ERWIN TANJUNG

 

KHUTBAH PERTAMA

 

الْحَمْدُ للَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ:

 

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

 

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

 

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Takwa adalah satu-satunya bekal terbaik yang akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat.

 

Setiap hari, minimal 17 kali dalam salat fardu, kita membaca Surat Al-Fatihah. Di dalam surat yang mulia ini, terdapat satu doa yang paling sering kita ulang, yaitu:

 

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

 

"Tunjukkanlah kami jalan yang lurus." (QS. Al-Fatihah: 6)

 

Doa ini bukan sekadar permohonan biasa, melainkan kebutuhan paling mendasar dalam hidup seorang muslim. Setiap Kita melaksanakan ibadah sholat ayat ini terus baca untuk  memohon hidayah agar selalu dibimbing di atas Shiratal Mustaqim—jalan ketauhidan, syariat Islam, dan kebenaran yang membawa kita menuju ridha serta surga-Nya.

 

Pentingnya memohon petunjuk ini ditegaskan dalam sebuah Hadis Qudsi, di mana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

 

يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ

 

"Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua adalah orang yang sesat kecuali yang Aku beri petunjuk. Maka memohonlah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi petunjuk kepadamu." (HR. Muslim no. 2577)

 

Jamaah yang dirahmati Allah,

 

Pada ayat selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan tiga kelompok manusia berdasarkan sikap mereka terhadap hidayah:

 

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

 

"(Yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (QS. Al-Fatihah: 7)

 

1. Kelompok Pertama: Orang-Orang yang Diberi Nikmat (An'amta 'Alaihim)

 

Kelompok ini adalah mereka yang berhasil meraih hidayah dengan menggabungkan antara ilmu yang benar dan amal yang ikhlas. Mereka tahu kebenaran, lalu tunduk mengamalkannya. Kelompok ini adalah kelompok yang tidak saja mengucapkan doa tetapi secara aktif mencari mana jalan yang lurus. Berusaha agar jalan yang dilewati adalah jalan yang lurus. Mencari jalan yang lurus dengan ilmu .

 

Siapakah mereka? Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskannya dalam Al-Qur'an:

 

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

 

"Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para siddiiqiin (orang-orang yang jujur keimanannya), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (QS. An-Nisa: 69)

 

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga bersabda tentang pentingnya ilmu yang membuahkan amal:

 

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

 

"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim no. 2699)

 

2. Kelompok Kedua: Orang-Orang yang Dimurkai (Al-Maghdhubi 'Alaihim)

 

Kelompok kedua ini adalah orang-orang yang berilmu dan tahu kebenaran, tetapi enggan mengamalkannya. Mereka menolak syariat karena kesombongan, hawa nafsu, atau kepentingan duniawi.

 

Mengenai ancaman bagi orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

 

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

 

"Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. As-Saff: 3)

 

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga menafsirkan siapa kelompok yang dimurkai ini secara spesifik dalam hadis dari 'Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu:

 

الْمَغْضُوبُ عَلَيْهِمْ: الْيَهُودُ

 

"Orang-orang yang dimurkai itu adalah kaum Yahudi." (HR. Tirmidzi no. 2954, shahih)

 

Sifat dasar kaum Yahudi yang disebutkan dalam hadis ini adalah mereka mengetahui kitab dan syariat Allah, namun sengaja membangkang dan melanggarnya. Siapa saja dari umat ini yang memiliki ilmu tetapi enggan mengamalkannya, maka ia telah meniru perangai buruk tersebut.

 

3. Kelompok Ketiga: Orang-Orang yang Sesat (Adh-Dhallin)

 

Kelompok ketiga adalah orang-orang yang beramal dan beribadah tanpa didasari ilmu yang benar. Boleh jadi mereka berniat baik. Mereka ingin menjalankan ibadah. Namun caranya salah karena berlandaskan kebodohan dan keikut-ikutan semata. Beramal beribadah tanpa dasar yang benar. Akhirnya mereka tersesat dalam menjalankan ibadah. Mereka adalah orang-orang yang rugi.

 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang kerugian orang-orang yang beramal tanpa ilmu dan petunjuk wahyu:

 

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا * الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

 

"Katakanlah: 'Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?' Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya." (QS. Al-Kahfi: 103-104)

 

 

Maka, setiap amalan yang dikerjakan tanpa ilmu agama yang benar, tanpa landasan yang kuat akan tertolak, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam:

 

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

 

"Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak." (HR. Muslim no. 1718)

 

Hadirin sidang Jumat yang berbahagia,

 

Dari tiga kelompok ini, kita dapat menyimpulkan bahwa kunci keselamatan hanya ada pada gabungan antara ilmu dan amal:

·         Berilmu tanpa amal memicu murka Allah (Al-Maghdhubi 'Alaihim).

·         Beramal tanpa ilmu membawa pada kesesatan (Adh-Dhallin).

·         Berilmu dan beramal membawa kita pada nikmat hidayah (An'amta 'Alaihim).

 

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KHUTBAH KEDUA

 

الْحَمْدُ للَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى توَفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

 

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى.

 

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

 

Di dalam Khutbah Kedua ini, marilah kita senantiasa menjaga keteguhan iman dan hidayah yang telah Allah karuniakan kepada kita. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan dalam Al-Qur'an agar kita senantiasa memegang teguh petunjuk-Nya sampai akhir hayat:

 

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

 

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr: 18)

 

Maka dari itu, marilah kita terus menuntut ilmu agama agar terhindar dari kesesatan, mengamalkannya dengan ikhlas agar terhindar dari murka Allah, serta senantiasa memohon keteguhan hati di atas jalan-Nya yang lurus.

 

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kita untuk bersalawat kepada Nabi-Nya:

 

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

 

 

 

 (DOA KHUTBAH)

 

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

 

Ya Allah, ampunilah dosa seluruh kaum muslimin dan muslimat, serta kaum mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

 

اللَّهُمَّ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ.

 

Ya Allah, tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

 

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

 

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu adalah benar dan berikanlah kami kekuatan untuk mengikutinya; serta tunjukkanlah kepada kami bahwa yang batil itu adalah batil dan berikanlah kami kekuatan untuk menjauhinya.

 

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

 

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.

 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

 

Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.

 

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ. وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.