Kamis, 26 Februari 2026
MENATA MENTAL ANAK
Kamis, Februari 26, 2026
No comments
Fakta menariknya, penelitian psikologi perkembangan menunjukkan bahwa pola asuh paling sehat bukan yang permisif dan bukan yang otoriter, melainkan yang hangat sekaligus tegas. Anak yang tumbuh dalam kombinasi ini cenderung memiliki regulasi emosi lebih baik, prestasi stabil, dan empati sosial yang kuat. Masalahnya, mencintai tanpa syarat sering disalahartikan sebagai membiarkan tanpa batas.
Dalam kehidupan sehari hari, ini sangat nyata. Ada orang tua yang takut anaknya kecewa sehingga semua dituruti. Ada juga yang merasa disiplin harus keras agar anak tidak manja. Dua pendekatan ini sama sama lahir dari niat baik, tapi sering gagal memahami bahwa cinta dan ketegasan bukan dua kutub yang saling meniadakan.
Mencintai tanpa syarat berarti menerima anak sebagai pribadi, bukan sebagai proyek ambisi. Membimbing dengan tegas berarti memberi arah tanpa merendahkan. Keduanya bisa berjalan beriringan jika dipahami secara utuh.
1. Memisahkan Nilai Diri Anak dari Perilakunya
Anak sering dinilai dari tindakannya. Ketika ia salah, label langsung melekat. Nakal, malas, tidak tahu diri. Padahal yang keliru adalah perilakunya, bukan identitasnya. Jika setiap kesalahan diserang dengan label, anak belajar bahwa cinta orang tua bersyarat.
Dalam praktik sehari hari, orang tua yang tetap tenang saat anak melakukan kesalahan menunjukkan sikap berbeda. Ia menegur tindakannya dengan jelas, tetapi tidak merendahkan harga dirinya. Anak memahami bahwa ia tetap dicintai, sekaligus belajar bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya.
2. Memberi Batas yang Konsisten, Bukan Emosional
Banyak konflik muncul bukan karena aturan terlalu ketat, tetapi karena berubah ubah mengikuti suasana hati orang tua. Hari ini dilarang keras, besok dibiarkan. Anak akhirnya bingung membedakan aturan dengan emosi.
Dalam keseharian, ketegasan yang bijak terlihat dari konsistensi. Aturan dijelaskan dengan alasan yang masuk akal. Ketika dilanggar, konsekuensi ditegakkan tanpa drama. Anak belajar bahwa dunia memiliki struktur, bukan sekadar reaksi emosional orang dewasa.
3. Mengganti Kontrol dengan Dialog
Kontrol membuat anak patuh ketika diawasi. Dialog membuat anak mengerti bahkan ketika sendirian. Perbedaan ini sering diabaikan karena dialog membutuhkan waktu dan kesabaran.
Dalam kehidupan nyata, orang tua yang meluangkan waktu mendengar sudut pandang anak sedang menanamkan kemampuan berpikir kritis dan empati. Jika pembahasan seperti ini terasa membuka perspektif baru dan ingin dikaji lebih dalam dari sudut logika dan filsafat pendidikan, kamu bisa berlangganan konten eksklusif Logika Filsuf untuk pendalaman yang lebih reflektif dan tajam.
4. Tidak Menjadikan Prestasi sebagai Syarat Cinta
Anak yang hanya dipuji saat berhasil perlahan menyimpulkan bahwa nilai dirinya tergantung pencapaian. Ketika gagal, ia merasa kehilangan tempat aman.
Dalam keseharian, orang tua yang tetap hadir dan suportif meski anak tidak juara sedang membangun pondasi kepercayaan diri yang lebih sehat. Anak belajar bahwa usaha dihargai, bukan hanya hasil. Dari situ motivasi tumbuh lebih stabil.
5. Tegas pada Nilai, Fleksibel pada Cara
Nilai seperti kejujuran dan tanggung jawab memang tidak bisa ditawar. Namun cara mencapainya bisa disesuaikan dengan karakter anak. Pendekatan yang kaku sering mematikan potensi uniknya.
Dalam praktik sehari hari, orang tua yang memahami perbedaan karakter anak tidak memaksakan satu metode tunggal. Ia tetap memegang prinsip, tetapi mencari cara yang relevan. Anak merasa dihargai sekaligus diarahkan.
6. Mengelola Emosi Sebelum Mendidik
Sering kali yang disebut ketegasan sebenarnya adalah luapan amarah. Anak menjadi sasaran kelelahan dan tekanan orang tua. Ini bukan pendidikan, melainkan pelampiasan.
Dalam keseharian, orang tua yang mampu menenangkan diri sebelum menegur memberi contoh pengendalian diri yang nyata. Anak melihat bahwa kekuatan bukan terletak pada suara keras, tetapi pada kemampuan menguasai emosi.
7. Menjadi Teladan, Bukan Sekadar Pemberi Aturan
Anak lebih cepat meniru daripada mendengar. Ia mengamati bagaimana orang tua berbicara, menyelesaikan konflik, dan memperlakukan orang lain.
Dalam kehidupan sehari hari, ketika orang tua meminta kejujuran sambil jujur dalam tindakan, pesan menjadi utuh. Ketegasan tidak terasa sebagai tekanan, melainkan konsistensi nilai yang hidup. Anak belajar bukan karena takut, tetapi karena melihat contoh nyata.
Mencintai tanpa syarat dan membimbing dengan tegas bukan konsep abstrak. Ia hadir dalam cara kita berbicara, merespons kesalahan, dan menetapkan batas setiap hari. Cinta memberi akar. Ketegasan memberi arah.
Menurutmu, mana yang lebih sering keliru dalam praktik pengasuhan hari ini, cinta yang terlalu longgar atau ketegasan yang terlalu keras. Tulis pandanganmu di kolom komentar dan bagikan tulisan ini agar semakin banyak orang tua menemukan keseimbangan yang lebih sehat.
Sumber: Fb Logika Filsuf
Jumat, 30 Januari 2026
MERUBAH CARA PIKIR
Jumat, Januari 30, 2026
No comments
Perubahan cara pikir (mindset) sangat penting untuk mencapai ketenangan hidup yang sejati. Salah satu pergeseran terbesar adalah berhenti menjadikan kebahagiaan duniawi sebagai tujuan utama, dan beralih fokus pada kebermaknaan hidup.
Berikut adalah 5 pesan perubahan cara pikir tersebut:
1. Hidup Bukan Mencari Bahagia, Tapi Hidup adalah Ibadah
Mindset lama: Saya harus bahagia, jika sedih saya gagal.
Mindset baru: Hidup adalah bentuk pengabdian (ibadah) kepada Sang Pencipta. Bahagia atau sedih adalah warna kehidupan, namun tujuan akhirnya adalah keridaan Allah.
2. Berhenti Membandingkan Diri, Mulai Bersyukur
Mindset lama: Hidup orang lain lebih baik, saya kurang beruntung.
Mindset baru: Fokus pada apa yang dimiliki (nikmat kecil). Bersyukur membuat hati tenang, sementara membandingkan diri hanya melahirkan iri dan gelisah.
3. Fokus pada Kontribusi (Bermanfaat), Bukan Sekadar Pencapaian
Mindset lama: Saya sukses jika punya harta/jabatan tinggi.
Mindset baru: Saya sukses jika hidup saya memberi arti dan manfaat bagi orang lain. Nilai manusia diukur dari seberapa dalam ia memberi manfaat.
4. Masalah Bukan Penghalang, Tapi Jalan Pendewasaan
Mindset lama: Kenapa cobaan ini terjadi? Hidup tidak adil.
Mindset baru: Setiap masalah adalah sarana melatih kesabaran dan meningkatkan derajat di sisi Tuhan. "Di balik kesulitan ada kemudahan".
5. Mencari Ridha Allah, Bukan Pujian Manusia
Mindset lama: Apa kata orang jika saya gagal/miskin?
Mindset baru: Ketenangan hati tidak terikat pada pujian atau celaan manusia, tetapi pada keyakinan bahwa Allah tahu yang terbaik.
Perubahan mindset ini mengajak kita "naik kelas", dari sekadar bertahan hidup (survive) menjadi hidup yang bermakna.
Kamis, 17 April 2025
BUPATI KARO BESERTA TOKOH UMMAT ISLAM WUJUDKAN KARO BERIMAN
Kamis, April 17, 2025
No comments
Hari ini (Kamis,17/04/2025) dilaksanakan pertemuan yang menarik antara tokoh-tokoh umat Islam Kabupaten Karo dengan Bupati dan Wakil Bupati Karo. Pertemuan yang dilaksanakan di aula Bupati Karo dihadiri oleh tokoh-tokoh umat Islam antara lain yang berasal dari MUI serta ormas Muhammadiyah, Al Washliyah Nahdlatul, Ulama, FKUB Kabupaten serta dihadiri oleh Kepala Kemenag Karo H. Saparuddin .Pertemuan ini dilandasi oleh semangat Bupati dan Wakil Bupati Karo dalam rangka mewujudkan salah satu visi Kabupaten Karo yaitu KARO BERIMAN.
yang dilandasi dengan semangat untuk membangun Kabupaten Karo ke depan khususnya menciptakan Kabupaten Karo yang menjunjung tinggi nilai-nilai keimanan. Usul dan saran dari tokoh-tokoh umat Islam menjadi catatan penting untuk dijadikan program kedepan dalam membangun nilai-nilai keimanan di Kabupaten Karo.
Profesor Sukaria Sinulingga akademisi dari USU pada pengantar rapat menyampaikan kegelisahannya tentang kondisi Kabupaten Karo saat ini. Beliau melihat saat ini Karo yang jorok, wisata yang tidak kondusif ,penyebaran narkoba yang begitu tinggi, maraknya perjudian serta prostitusi menjadi tantangan Bupati Karo ke depan. Permasalahan ini tentu tidak dapat diselesaikan oleh Bupati Karo tetapi harus bekerja sama dengan masyarakat tentu diantaranya adalah tokoh-tokoh agama termasuk dari kalangan Islam.
Bupati Karo Antonius Ginting meminta masukan-masukan serta gagasan yang dapat dilaksanakan dalam rangka mewujudkan Kabupaten Karo yang religius. Dalam kesempatan ini Bupati Karo berharap kerjasama antara pemerintahan Kabupaten Karo dengan tokoh-tokoh umat Islam beserta ormas dalam rangka memberikan pembinaan sehingga menciptakan masyarakat karo yang beriman, taat terhadap perintah Tuhannya dan menjadikan nilai-nilai agama sebagai landasan dalam berkeluarga. Bupati Karo juga menyampaikan betapa maraknya peredaran narkoba perjudian dan prostitusi di tengah-tengah masyarakat. Oleh sebab itu Bupati Karo berharap sangat kepadatan tokoh-tokoh umat Islam serta lembaga-lembaga keagamaan untuk memberikan penyuluhan pembinaan di tengah-tengah jamaah. Bupati Karo menyampaikan bahwa pertumbuhan ini adalah pertemuan kedua dengan tokoh-tokoh agama sebelumnya telah dilaksanakan pertemuan dengan tokoh-tokoh agama Kristen dengan semangat yang sama membangun karo beriman.
Diskusi yang dipandu oleh Sekda Kabupaten Karo Eddi Surianta Surbakti berjalan dengan baik
yang dilandasi dengan semangat untuk membangun Kabupaten Karo ke depan khususnya menciptakan Kabupaten Karo yang menjunjung tinggi nilai-nilai keimanan. Usul dan saran dari tokoh-tokoh umat Islam menjadi catatan penting untuk dijadikan program kedepan dalam membangun nilai-nilai keimanan di Kabupaten Karo.
Minggu, 15 Desember 2024
Catatan Pelatihan Kader Penggerak Ukhwah Islamiyah
Komisi Ukhwah Majelis ulama Indonesia Sumatera Utara melaksanakan kegiatan Pelatihan Kader Penggerak Ukhwah Islamiyah Angkatan IV. Kegiatan ini dilaksanakan 14-15 Desember 2024 di Sidikalang. Peserta kegiatan ini berasal dari sembilan MUI kabupaten/kota kawasan geopark kaldera di Sumatera Utara.
Pelatihan ini diharapkan akan muncul kader-kader penggerak untuk membangun Ukhwah Islamiyah. Secara tersirat pelatihan ini memberikan sinyal bahwa ukhuwah Islamiah kita dalam masalah. Menarik apa yang disampaikan narasumber DR. Muhammad Yafidz mengatakan bahwa ukhuwah dalam bentuk saling menghormati sudah selesai tetapi kalau saling berbagi dan membangun belum terwujud sama sekali. Inilah tugas kita ke depan bagaimana berupaya membangun ukhwah Islamiyah.
Materi pelatihan yang disampaikan keseluruhannya punya satu visi yang sama yaitu bagaimana membangun ukhwah Islamiyah. Islam adalah agama yang membangun semangat ukhuwah. Islam sebagai rahmatan Lil alamin merupakan pondasi ukhuwah Islamiah. Oleh sebab itulah ummat harus memahami Islam dengan sebenarnya agar ukhuwah itu bisa terbina. Inilah yang disampaikan narasumber Drs. Hatta Siregar.
Segmen pemuda harus menjadi perhatian penting kita untuk membangun Ukhwah Islamiyah. Semangat ukhuwah inilah yang harus kita tanamkan generasi Islam kita. Harus ada cara yang kita desain untuk membangun Ukhwah Islamiyah di kalangan generasi muda Islam. DR. Winda dalam paparannya menantang peserta pelatihan kader ukhuwah untuk membuat aksi nyata bagaimana membangun ukhwah di kalangan generasi muda Islam.
Membangun ekonomi ummat juga menjadi perhatian dalam kegiatan pelatihan kader ukhuwah Islamiah. Jumlah ummat yang banyak menjadi sebuah potensi membangun ekonomi ummat. Dr. Muhammad Yafiz,M.Ag memberikan gambaran bagaimana membangun ekonomi ummat dengan ekonomi syariah. Ekonomi ummat Islam bisa maju harus dimulai dengan semangat ukhuwah Islamiah. Jika hari ini kita tidak memiliki kekuatan ekonomi salah satunya akibat ukhuwah Islamiah yang masih rapuh.
Dari catatan Pelatihan Penggerak Ukhwah Islamiyah MUI Sumatera Utara setiap kita perlu membangun semangat ukhuwah. Ukhuwah dimulai dari lingkungan terkecil termasuk saat melakukan kegiatan pelatihan seperti yang sedang kita lakukan. Menariknya simulasi yang dilakukan oleh narasumber Dr. Irwansyah melihat kondisi pengelompokan tempat peserta, rendahnya menghargai dan mendengar permasalahan dari daerah lain adalah contoh kecil rendahnya ukhuwah Islamiah kita. Padahal masih dalam sebuah ruangan.
Drs. H.Sariman al-Faruq sebagai narasumber terakhir menyampaikan bahwa silaturahmi dan ukhuwah merupakan tantangan bagi pemuda Islam. Silaturahmi harus diperkuat dan itu menjadi tanggung jawab pemuda Islam.
Tentu ini sebuah pelatihan dan tentu tidak berhenti sampai di sini. Peserta diharapkan menjadi Kader yang mampu menyampaikan di tengah-tengah ummat. Tentu ini bukanlah hal yang mudah namun harus dilakukan. Harus ada gerakan sekecil apapun dilakukan untuk membangun Ukhwah di daerah masing-masing. Banyak tantangan di tengah-tengah ummat untuk membangun Ukhwah Islamiyah di tengah-tengah.
Semoga semangat membangun ukhwah Islamiyah tidak berhenti sampai di ruang pelatihan tetapi harus kita lakukan di tengah-tengah. Selamat berjuang sebagai kader ukhuwah Islamiah membangun ukhwah Islamiyah.
Selasa, 10 Desember 2024
Dokumentasi: Rakor Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Sumatera Utara
Rapat Koordinasi Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Sumatera Utara tanggal 7-8 Desember 2024 di Kisaran. Dihadiri oleh seluruh MUI Kabupaten Kota se-Sumatera Utara.
Rabu, 04 Desember 2024
Diksi "90BL0K"Gus Miftah
"Goblok" lagi dalam perbincangan terkait dengan ucapan Gus Miftah dalam sebuah acara ceramahnya. Gus Miftah mengeluarkan diksi goblok yang ditujukan kepada seorang penjual teh di tengah acara ceramahnya. Tidak itu saja tetapi respon tertawa terbahak-bahak dari rekan satu panggung Gus Miftah menjadikan diksi "goblok" bernilai lebih sarkasme.
Apa yang dilakukan oleh Gus Miftah seharusnya tidak boleh terjadi. Gus Miftah adalah seorang ustad, tokoh masyarakat , panutan masyarakat maka seharusnya perilaku tersebut tidak boleh terjadi. Apalagi saat beliau diamanahkan oleh negara sebagai staff utusan presiden.Sebagai seorang ustad ,tokoh masyarakat apalagi pejabat negara maka seharusnya diksi yang dipergunakan itu harus diseleksi. Ada kata-kata yang barangkali biasa digunakan oleh masyarakat awam namun tentu tidak tepat kalau itu disampaikan oleh ustad atau tokoh masyarakat. Sebagai seorang tokoh masyarakat yang menjadi panutan masyarakat seharusnya berkata lebih bijak. Berkata lebih mengutamakan sopan santun di dalam berbahasa.
Kadang-kadang ada tokoh masyarakat ketika berbicara di khalayak ramai ingin mendapat respon dari pendengarnya memakai kosakata dengan ragam kasar agar mendapat sambutan yang meriah dari. Inilah yang selalu dilakoni oleh Gus Miftah dalam berbagai kesempatan berceramah. Selain ragam kata kasar ada yang bernada diksi pembullyan, diksi pornografi dan sebagainya.
Kasus diksi goblok Gus Miftah mudah-mudahan menjadi pembelajaran bagi tokoh masyarakat termasuk juga para pejabat dalam berbicara. Lihatlah tayangan debat di televisi secara live para "tokoh" Banyak kasus kita melihat para pejabat atau tokoh saat berbicara kadang-kadang secara live dengan tutur kata yang kasar. Itu ditonton oleh ribuan atau jutaan masyarakat. Diksi yang kasar, diksi yang melecehkan, diksi bernada vulgar mereka perdengarkan untuk masyarakat.
Sekali kasus ucapan "goblok" Gus Miftah menjadi pelajaran bagi kita semua khususnya bagi kelompok dan pejabat publik. Atulah diksi yang tepat yang baik dalam kondisi apapun. Inilah salah satu cara tokoh atau pejabat memberikan contoh yang baik kepada masyarakat dengan diksi yang tepat.
Senin, 02 Desember 2024
Bangun Orang Waras
BANGUN ORANG WARAS
Hei bangun Orang waras,
Demokrasi sudah Basi,
Buah ini busuk tak ada Nutrisi.
Raga nya Hidup,
Namun sukma nya Mati.
Hukum memang buta tapi kenal Transaksi.
Hey pak Petani,
Pupuk mahal cuma modus!
Agar beras Impor jalannya bisa mulus.
Hey pak guru,
Pengangkatanmu tak diurus!
Agar gaji tetap kecil terus menerus.
Hutan adat itu Rumah kami,
dijual kini.
Ratusan tahun kami sudah disini,
Skarang menjadi,, lahan sawit Oligarki.
Lagu ini diciptakan atas dasar keresahan para personel METHOSA yang peduli akan nasib bangsa, serta Masyarakat yang ada di dalam nya, dari segelintir lapisan Masyarakat, terutama Menengah ke Bawah.
#Merdeka
#musik
#demokrasi
Langganan:
Komentar (Atom)


































