Selasa, 25 Agustus 2026
Penjelasan Tentang Allah SWT Bersumpah dengan Ciptaannya
Sabtu, 22 Agustus 2026
3 Sikap Orang Islam Atas Jalan Yang Lurus
KHUTBAH JUMAT
ADA 3 KELOMPOK SIKAP MANUSIA ATAS JALAN
YANG LURUS
OLEH : ERWIN TANJUNG
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ للَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ
سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ
لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ
صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ
أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ:
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى
اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan
Allah,
Marilah kita
meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Takwa adalah
satu-satunya bekal terbaik yang akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat.
Setiap hari, minimal
17 kali dalam salat fardu, kita membaca Surat Al-Fatihah. Di dalam surat yang
mulia ini, terdapat satu doa yang paling sering kita ulang, yaitu:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ
الْمُسْتَقِيمَ
"Tunjukkanlah kami jalan
yang lurus." (QS. Al-Fatihah: 6)
Doa ini bukan sekadar
permohonan biasa, melainkan kebutuhan paling mendasar dalam hidup seorang
muslim. Setiap
Kita melaksanakan
ibadah sholat ayat ini terus baca untuk memohon hidayah agar
selalu dibimbing di atas Shiratal Mustaqim—jalan
ketauhidan, syariat Islam, dan kebenaran yang membawa kita menuju ridha serta
surga-Nya.
Pentingnya memohon
petunjuk ini ditegaskan dalam sebuah Hadis Qudsi, di mana
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ
إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ
"Wahai hamba-hamba-Ku,
kalian semua adalah orang yang sesat kecuali yang Aku beri petunjuk. Maka
memohonlah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi petunjuk
kepadamu." (HR. Muslim no. 2577)
Jamaah yang dirahmati Allah,
Pada ayat selanjutnya,
Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan tiga kelompok manusia
berdasarkan sikap mereka terhadap hidayah:
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ
عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
"(Yaitu) Jalan orang-orang
yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan
bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (QS. Al-Fatihah: 7)
1. Kelompok Pertama:
Orang-Orang yang Diberi Nikmat (An'amta 'Alaihim)
Kelompok ini adalah
mereka yang berhasil meraih hidayah dengan menggabungkan antara ilmu yang
benar dan amal yang ikhlas. Mereka tahu kebenaran, lalu tunduk mengamalkannya. Kelompok ini
adalah kelompok yang tidak saja mengucapkan doa tetapi secara aktif mencari mana
jalan yang lurus. Berusaha agar jalan yang dilewati adalah jalan yang lurus. Mencari
jalan yang lurus dengan ilmu .
Siapakah mereka? Allah
Subhanahu wa Ta'ala menegaskannya dalam Al-Qur'an:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ
وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ
النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ
أُولَئِكَ رَفِيقًا
"Dan barangsiapa yang taat
kepada Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang
yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para siddiiqiin
(orang-orang yang jujur keimanannya), orang-orang yang mati syahid, dan
orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (QS. An-Nisa: 69)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga bersabda tentang
pentingnya ilmu yang membuahkan amal:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ
فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
"Barangsiapa menempuh
suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan
menuju surga." (HR. Muslim no. 2699)
2. Kelompok Kedua: Orang-Orang
yang Dimurkai (Al-Maghdhubi 'Alaihim)
Kelompok kedua ini
adalah orang-orang yang berilmu dan tahu kebenaran,
tetapi enggan mengamalkannya. Mereka menolak syariat karena
kesombongan, hawa nafsu, atau kepentingan duniawi.
Mengenai ancaman bagi
orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ
أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
"Amat besar kebencian di
sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. As-Saff: 3)
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga menafsirkan siapa
kelompok yang dimurkai ini secara spesifik dalam hadis dari 'Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu:
الْمَغْضُوبُ عَلَيْهِمْ:
الْيَهُودُ
"Orang-orang yang dimurkai
itu adalah kaum Yahudi." (HR. Tirmidzi no. 2954, shahih)
Sifat dasar kaum
Yahudi yang disebutkan dalam hadis ini adalah mereka mengetahui kitab dan
syariat Allah, namun sengaja membangkang dan melanggarnya. Siapa saja dari umat
ini yang memiliki ilmu tetapi enggan mengamalkannya, maka ia telah meniru
perangai buruk tersebut.
3. Kelompok Ketiga: Orang-Orang
yang Sesat (Adh-Dhallin)
Kelompok ketiga adalah
orang-orang yang beramal dan beribadah tanpa didasari ilmu yang
benar. Boleh jadi mereka berniat baik. Mereka ingin menjalankan ibadah. Namun caranya salah karena berlandaskan
kebodohan dan keikut-ikutan semata. Beramal beribadah tanpa dasar
yang benar. Akhirnya mereka tersesat dalam menjalankan ibadah. Mereka adalah orang-orang
yang rugi.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang kerugian
orang-orang yang beramal tanpa ilmu dan petunjuk wahyu:
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا * الَّذِينَ
ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ
يُحْسِنُونَ صُنْعًا
"Katakanlah: 'Apakah perlu
Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?'
Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini,
sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya." (QS. Al-Kahfi: 103-104)
Maka, setiap amalan
yang dikerjakan tanpa ilmu agama yang benar, tanpa landasan yang kuat akan tertolak, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ
عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
"Barangsiapa melakukan
suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut
tertolak." (HR. Muslim no. 1718)
Hadirin sidang Jumat yang
berbahagia,
Dari tiga kelompok
ini, kita dapat menyimpulkan bahwa kunci keselamatan hanya ada pada gabungan
antara ilmu dan amal:
·
Berilmu tanpa amal memicu murka Allah (Al-Maghdhubi 'Alaihim).
·
Beramal tanpa ilmu membawa pada kesesatan (Adh-Dhallin).
·
Berilmu dan beramal membawa kita pada nikmat hidayah (An'amta 'Alaihim).
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ،
وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ
وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ للَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى
توَفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ
لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى.
Jamaah Jumat yang dimuliakan
Allah,
Di dalam Khutbah Kedua
ini, marilah kita senantiasa menjaga keteguhan iman dan hidayah yang telah
Allah karuniakan kepada kita. Allah Subhanahu wa Ta'ala
mengingatkan dalam Al-Qur'an agar kita senantiasa memegang teguh petunjuk-Nya
sampai akhir hayat:
يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ
خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
"Wahai orang-orang yang
beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa
yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada
Allah, sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr: 18)
Maka dari itu, marilah
kita terus menuntut ilmu agama agar terhindar dari kesesatan, mengamalkannya
dengan ikhlas agar terhindar dari murka Allah, serta senantiasa memohon
keteguhan hati di atas jalan-Nya yang lurus.
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kita untuk bersalawat
kepada Nabi-Nya:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ
يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
(DOA KHUTBAH)
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا
صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ،
وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa
seluruh kaum muslimin dan muslimat, serta kaum mukminin dan mukminat, baik yang
masih hidup maupun yang telah wafat.
اللَّهُمَّ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، صِرَاطَ الَّذِينَ
أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ.
Ya Allah, tunjukkanlah kami
jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada
mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang
sesat.
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ
حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا
اجْتِنَابَهُ.
Ya Allah, tunjukkanlah kepada
kami bahwa yang benar itu adalah benar dan berikanlah kami kekuatan untuk
mengikutinya; serta tunjukkanlah kepada kami bahwa yang batil itu adalah batil
dan berikanlah kami kekuatan untuk menjauhinya.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا
بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ
الْوَهَّابُ
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah
kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Ya Tuhan kami, berikanlah kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab
neraka.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ،
يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ
يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ
أَكْبَرُ. وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Jumat, 21 Agustus 2026
Khutbah Jumat : Jangan Menunggu Penyesalan di Akhirat
KHUTBAH JUMAT
JANGAN MENUNGGU PENYESALAN DI AKHIRAT
Renungan QS. Al-Mulk Ayat 11
Oleh : Erwin Tanjung
KHUTBAH PERTAMA
Pembukaan
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ،
وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا
هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي
بِتَقْوَى اللّٰهِ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT yang
sampai hari ini masih memberikan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, nikmat
kesehatan, nikmat kesempatan, dan yang paling penting, nikmat kesempatan untuk
bertaubat dan memperbaiki diri.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan
kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para
sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti ajarannya hingga hari
kiamat.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita meningkatkan
ketakwaan kepada Allah SWT.
Takwa bukan hanya berarti takut kepada Allah. Takwa berarti menjaga
diri agar kehidupan kita selalu berada dalam ketaatan kepada Allah, menjalankan
perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan selalu mengingat bahwa suatu hari
nanti kita akan kembali menghadap kepada-Nya.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Tema khutbah kita hari ini adalah:
“Jangan Menunggu Penyesalan di Akhirat.”
Mengapa tema ini penting?
Karena manusia sering kali menyadari kesalahan setelah
semuanya terlambat.
Ketika masih sehat, kita sering lupa bahwa suatu saat kita
akan sakit.
Ketika masih muda, kita lupa bahwa suatu saat kita akan tua.
Ketika memiliki waktu, kita sering mengatakan, “Nanti
saja.”
Ketika memiliki kesempatan beribadah, kita mengatakan, “Besok
saja.”
Ketika mempunyai kesempatan meminta maaf, kita berkata, “Nanti
kalau sudah tenang.”
Padahal kita tidak pernah tahu apakah kita masih memiliki
hari esok.
Allah SWT menggambarkan penyesalan manusia di akhirat dalam
QS. Al-Mulk ayat 10–11.
Allah berfirman:
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي
أَصْحَابِ السَّعِيرِ فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِّأَصْحَابِ
السَّعِيرِ
Artinya:
“Dan mereka berkata, ‘Sekiranya dahulu kami mendengarkan atau
memikirkan, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.’
Maka mereka mengakui dosanya. Tetapi jauhlah mereka dari rahmat Allah bagi
penghuni neraka yang menyala-nyala.”
Jamaah rahimakumullah,
Perhatikan kalimat mereka:
لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ
"Sekiranya dahulu kami mau mendengarkan atau mau
berpikir..."
Ada kata “sekiranya”.
Tetapi pada saat itu, kata “sekiranya” sudah tidak berguna.
Mereka menyesal.
Mereka mengakui kesalahan.
Mereka menyadari bahwa peringatan para rasul adalah benar.
Tetapi kesempatan untuk kembali ke dunia sudah tidak ada.
PENYESALAN TERBESAR DI AKHIRAT
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Manusia di dunia sering takut kehilangan harta.
Takut kehilangan pekerjaan.
Takut kehilangan jabatan.
Takut kehilangan rumah.
Takut kehilangan kendaraan.
Takut kehilangan orang yang dicintai.
Tetapi sering kali kita tidak takut kehilangan kesempatan
untuk beramal.
Padahal yang akan kita bawa ketika meninggalkan dunia bukan
rumah kita.
Bukan kendaraan kita.
Bukan jabatan kita.
Bukan uang kita.
Yang akan menemani kita adalah amal kita.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ، وَيَبْقَى
مَعَهُ وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ
وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ
Artinya:
“Ada tiga hal yang mengikuti jenazah: keluarganya, hartanya
dan amalnya. Dua di antaranya akan kembali, sedangkan satu akan tetap
bersamanya. Keluarga dan hartanya akan kembali, sementara amalnya akan tetap
bersamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jamaah sekalian,
Ketika seseorang meninggal dunia, keluarganya akan
mengantarkan sampai pemakaman.
Setelah itu mereka pulang.
Rumahnya kembali kepada keluarga.
Hartanya dibagikan.
Jabatannya digantikan.
Tetapi amalnya tetap bersamanya.
Karena itu, jangan sampai kita terlalu sibuk mengumpulkan
sesuatu yang akan kita tinggalkan, tetapi lupa mempersiapkan sesuatu yang akan
kita bawa.
KEHIDUPAN DUNIA HANYALAH SEMENTARA
Allah SWT berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati." (
Qs. Ali Imran: 185 ()
Ayat ini sangat sederhana, tetapi sangat dalam.
Allah tidak mengatakan:
“Sebagian manusia akan mati.”
Allah mengatakan:
كُلُّ نَفْسٍ
Setiap jiwa.
Artinya, tidak ada seorang pun yang akan selamanya hidup di
dunia.
Orang kaya akan mati.
Orang miskin akan mati.
Pejabat akan mati.
Rakyat akan mati.
Orang terkenal akan mati.
Orang yang tidak dikenal juga akan mati.
Kita semua akan kembali kepada Allah.
Persoalannya bukan apakah kita akan mati.
Persoalannya adalah:
Apa yang sudah kita siapkan untuk menghadapi kematian?
JANGAN MENUNDA TAUBAT
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Salah satu tipu daya setan adalah membuat manusia merasa
masih memiliki banyak waktu.
Ketika ingin beribadah, setan membisikkan:
"Nanti saja."
Ketika ingin membaca Al-Qur'an:
"Besok saja."
Ketika ingin bersedekah:
"Nanti kalau sudah kaya."
Ketika ingin memperbaiki salat:
"Nanti kalau sudah tua."
Ketika ingin meminta maaf:
"Tunggu waktu yang tepat."
Padahal tidak ada yang menjamin kita masih hidup sampai “nanti”.
Allah SWT berfirman:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُونَ
"Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai
orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." ( Qs. An-Nur:
3`1 )
Perhatikan, Allah memanggil:
أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman."
Ini menunjukkan bahwa taubat bukan hanya untuk orang yang
merasa dirinya sangat berdosa. Orang saleh pun perlu bertaubat.
Orang yang rajin beribadah pun perlu bertaubat.
Karena manusia tidak pernah luput dari kesalahan.
KESEMPATAN HIDUP ADALAH NIKMAT
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kalau hari ini kita masih hidup, sebenarnya Allah sedang
memberikan kepada kita kesempatan yang sangat besar.
Kesempatan untuk memperbaiki salat.
Kesempatan untuk membaca Al-Qur'an.
Kesempatan untuk bersedekah.
Kesempatan untuk berbakti kepada orang tua.
Kesempatan untuk meminta maaf kepada pasangan.
Kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan saudara.
Kesempatan untuk meninggalkan dosa.
Kesempatan untuk bertaubat.
Jangan tunggu kehilangan sesuatu baru kita menyadari
nilainya.
Sering kali seseorang baru sadar betapa berharganya kesehatan
ketika sudah sakit.
Baru sadar betapa berharganya orang tua ketika mereka sudah
meninggal.
Baru sadar betapa berharganya waktu ketika usia sudah tua.
Dan manusia baru benar-benar menyadari nilai kesempatan
beramal ketika kematian telah datang.
ORANG CERDAS ADALAH ORANG YANG MEMPERSIAPKAN AKHIRAT
Rasulullah ﷺ
bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
Artinya:
"Orang yang cerdas adalah orang yang mengevaluasi
dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian." (HR. Tirmidzi)
Jamaah rahimakumullah,
Dalam pandangan manusia, orang cerdas mungkin adalah orang
yang memiliki pendidikan tinggi.
Orang yang mempunyai banyak harta.
Orang yang mempunyai jabatan.
Tetapi Rasulullah ﷺ
memberikan ukuran kecerdasan yang lebih dalam:
Orang cerdas adalah orang yang mempersiapkan kehidupan
setelah kematian.
Maka marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing:
Sudahkah kita memperbaiki salat?
Sudahkah kita meninggalkan dosa yang kita tahu?
Sudahkah kita meminta maaf kepada orang yang pernah kita
sakiti?
Sudahkah kita berbakti kepada orang tua?
Sudahkah kita memberikan hak keluarga kita?
Sudahkah kita memperbanyak sedekah?
Sudahkah kita membaca Al-Qur'an?
Dan yang paling penting:
Jika hari ini Allah memanggil kita, apakah kita sudah siap
menghadap-Nya?
JANGAN MENJADI ORANG YANG MENYESAL
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Allah menggambarkan penyesalan manusia pada saat kematian
datang.
Allah berfirman:
رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ
"Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia, agar aku dapat
berbuat kebajikan terhadap yang telah aku tinggalkan." (QS. Al-Mu'minun: 99–100)
Lihatlah jamaah.
Ketika kematian datang, manusia meminta:
“Ya Allah, kembalikan aku.” Mengapa?
Bukan karena ingin kembali membeli rumah.
Bukan karena ingin kembali membeli kendaraan.
Bukan karena ingin kembali mengejar jabatan.
Tetapi karena ingin beramal saleh.
Namun Allah tidak mengembalikannya.
Karena dunia adalah tempat beramal.
Sedangkan akhirat adalah tempat menerima balasan.
Hari ini kita masih berada di tempat beramal.
Hari ini kita masih memiliki kesempatan.
Maka jangan sia-siakan.
APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Ada beberapa hal yang dapat kita mulai dari hari ini.
Pertama, perbaiki salat.
Jangan biarkan kesibukan dunia membuat kita meninggalkan
kewajiban yang paling utama.
Kedua, perbanyak istighfar dan taubat.
Jangan merasa dosa kita terlalu banyak sehingga tidak layak
kembali kepada Allah.
Allah Maha Pengampun.
Ketiga, perbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Jangan membawa dendam sampai mati.
Jika kita salah, mintalah maaf.
Jika orang lain salah kepada kita, belajarlah memaafkan.
Keempat, perbanyak amal yang bermanfaat.
Sedekah, membantu orang lain, mengajarkan ilmu, membaca
Al-Qur'an, berbakti kepada orang tua, dan berbagai amal kebaikan.
Kelima, persiapkan bekal akhirat.
Allah berfirman:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah
takwa."
(QS. Al-Baqarah: 197)
PENUTUP KHUTBAH PERTAMA
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Jangan menunggu menjadi tua untuk bertobat.
Jangan menunggu sakit untuk mengingat Allah.
Jangan menunggu kehilangan untuk bersyukur.
Jangan menunggu kematian untuk beramal.
Dan jangan sampai kita menjadi seperti yang digambarkan dalam
QS. Al-Mulk ayat 11:
فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ
"Mereka mengakui dosa mereka."
Semoga kita menjadi orang yang mengakui kesalahan ketika
masih hidup, bertaubat sebelum mati, dan memperbaiki diri sebelum datang hari
perhitungan.
أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ
وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ
لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي
بِتَقْوَى اللّٰهِ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita simpulkan khutbah hari ini.
Pertama: kematian adalah sesuatu yang pasti.
Kedua: dunia adalah tempat untuk beramal, bukan tempat untuk
hidup selamanya.
Ketiga: penyesalan di akhirat tidak lagi berguna.
Keempat: selama kita masih hidup, pintu taubat dan kesempatan
beramal masih terbuka.
Karena itu, jangan menunda kebaikan.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً
نَّصُوحًا
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada
Allah dengan tobat yang semurni-murninya." (QS. At-Tahrim: 8)
Mari kita pulang dari masjid ini dengan satu tekad:
Tekad untuk memperbaiki salat saya.
Tekad untuk meninggalkan dosa saya.
Tekad untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga dan sesama.
Tekad untuk memperbanyak amal saleh.
Semoga kita menjadi hamba yang ketika kembali
kepada Allah mendapatkan panggilan:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ
رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu
dengan hati yang rida dan diridai-Nya." (QS. Al-Fajr: 27–28)
DOA PENUTUP
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا، وَلِوَالِدَيْنَا،
وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua
kami, dan dosa seluruh kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik
yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.
اللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا، وَاغْفِرْ ذُنُوْبَنَا، وَاسْتُرْ
عُيُوْبَنَا، وَارْحَمْ ضَعْفَنَا.
Ya Allah, terimalah taubat kami, ampunilah dosa-dosa kami,
tutupilah aib-aib kami, dan rahmatilah kelemahan kami.
اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوْبَنَا، وَأَصْلِحْ أَعْمَالَنَا،
وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا.
Ya Allah, perbaikilah hati kami, amal kami, dan keadaan kami.
اللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا تَوْبَةً نَصُوْحًا قَبْلَ الْمَوْتِ،
وَرَاحَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً بَعْدَ الْمَوْتِ.
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami taubat yang
sebenar-benarnya sebelum kematian, ketenangan ketika kematian, serta ampunan
dan rahmat setelah kematian.
اللّٰهُمَّ احْسِنْ خَاتِمَتَنَا، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا
خَوَاتِمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.
Ya Allah, perbaikilah akhir kehidupan
kami. Jadikan amal terbaik kami sebagai penutup amal kami, dan jadikan hari
terbaik kami adalah hari ketika kami bertemu dengan-Mu.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً،
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا
وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
Ya Allah, jangan Engkau jadikan kami orang-orang yang
menyesal di akhirat.
Jadikanlah kami hamba-Mu yang senantiasa bertaubat,
memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, dan meninggal dalam keadaan husnul
khatimah.
إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي
الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُونَ.

















