KHUTBAH JUMAT
JANGAN MENUNGGU PENYESALAN DI AKHIRAT
Renungan QS. Al-Mulk Ayat 11
Oleh : Erwin Tanjung
KHUTBAH PERTAMA
Pembukaan
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ،
وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا
هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي
بِتَقْوَى اللّٰهِ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT yang
sampai hari ini masih memberikan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, nikmat
kesehatan, nikmat kesempatan, dan yang paling penting, nikmat kesempatan untuk
bertaubat dan memperbaiki diri.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan
kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para
sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti ajarannya hingga hari
kiamat.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita meningkatkan
ketakwaan kepada Allah SWT.
Takwa bukan hanya berarti takut kepada Allah. Takwa berarti menjaga
diri agar kehidupan kita selalu berada dalam ketaatan kepada Allah, menjalankan
perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan selalu mengingat bahwa suatu hari
nanti kita akan kembali menghadap kepada-Nya.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Tema khutbah kita hari ini adalah:
“Jangan Menunggu Penyesalan di Akhirat.”
Mengapa tema ini penting?
Karena manusia sering kali menyadari kesalahan setelah
semuanya terlambat.
Ketika masih sehat, kita sering lupa bahwa suatu saat kita
akan sakit.
Ketika masih muda, kita lupa bahwa suatu saat kita akan tua.
Ketika memiliki waktu, kita sering mengatakan, “Nanti
saja.”
Ketika memiliki kesempatan beribadah, kita mengatakan, “Besok
saja.”
Ketika mempunyai kesempatan meminta maaf, kita berkata, “Nanti
kalau sudah tenang.”
Padahal kita tidak pernah tahu apakah kita masih memiliki
hari esok.
Allah SWT menggambarkan penyesalan manusia di akhirat dalam
QS. Al-Mulk ayat 10–11.
Allah berfirman:
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي
أَصْحَابِ السَّعِيرِ فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِّأَصْحَابِ
السَّعِيرِ
Artinya:
“Dan mereka berkata, ‘Sekiranya dahulu kami mendengarkan atau
memikirkan, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.’
Maka mereka mengakui dosanya. Tetapi jauhlah mereka dari rahmat Allah bagi
penghuni neraka yang menyala-nyala.”
Jamaah rahimakumullah,
Perhatikan kalimat mereka:
لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ
"Sekiranya dahulu kami mau mendengarkan atau mau
berpikir..."
Ada kata “sekiranya”.
Tetapi pada saat itu, kata “sekiranya” sudah tidak berguna.
Mereka menyesal.
Mereka mengakui kesalahan.
Mereka menyadari bahwa peringatan para rasul adalah benar.
Tetapi kesempatan untuk kembali ke dunia sudah tidak ada.
PENYESALAN TERBESAR DI AKHIRAT
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Manusia di dunia sering takut kehilangan harta.
Takut kehilangan pekerjaan.
Takut kehilangan jabatan.
Takut kehilangan rumah.
Takut kehilangan kendaraan.
Takut kehilangan orang yang dicintai.
Tetapi sering kali kita tidak takut kehilangan kesempatan
untuk beramal.
Padahal yang akan kita bawa ketika meninggalkan dunia bukan
rumah kita.
Bukan kendaraan kita.
Bukan jabatan kita.
Bukan uang kita.
Yang akan menemani kita adalah amal kita.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ، وَيَبْقَى
مَعَهُ وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ
وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ
Artinya:
“Ada tiga hal yang mengikuti jenazah: keluarganya, hartanya
dan amalnya. Dua di antaranya akan kembali, sedangkan satu akan tetap
bersamanya. Keluarga dan hartanya akan kembali, sementara amalnya akan tetap
bersamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jamaah sekalian,
Ketika seseorang meninggal dunia, keluarganya akan
mengantarkan sampai pemakaman.
Setelah itu mereka pulang.
Rumahnya kembali kepada keluarga.
Hartanya dibagikan.
Jabatannya digantikan.
Tetapi amalnya tetap bersamanya.
Karena itu, jangan sampai kita terlalu sibuk mengumpulkan
sesuatu yang akan kita tinggalkan, tetapi lupa mempersiapkan sesuatu yang akan
kita bawa.
KEHIDUPAN DUNIA HANYALAH SEMENTARA
Allah SWT berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati." (
Qs. Ali Imran: 185 ()
Ayat ini sangat sederhana, tetapi sangat dalam.
Allah tidak mengatakan:
“Sebagian manusia akan mati.”
Allah mengatakan:
كُلُّ نَفْسٍ
Setiap jiwa.
Artinya, tidak ada seorang pun yang akan selamanya hidup di
dunia.
Orang kaya akan mati.
Orang miskin akan mati.
Pejabat akan mati.
Rakyat akan mati.
Orang terkenal akan mati.
Orang yang tidak dikenal juga akan mati.
Kita semua akan kembali kepada Allah.
Persoalannya bukan apakah kita akan mati.
Persoalannya adalah:
Apa yang sudah kita siapkan untuk menghadapi kematian?
JANGAN MENUNDA TAUBAT
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Salah satu tipu daya setan adalah membuat manusia merasa
masih memiliki banyak waktu.
Ketika ingin beribadah, setan membisikkan:
"Nanti saja."
Ketika ingin membaca Al-Qur'an:
"Besok saja."
Ketika ingin bersedekah:
"Nanti kalau sudah kaya."
Ketika ingin memperbaiki salat:
"Nanti kalau sudah tua."
Ketika ingin meminta maaf:
"Tunggu waktu yang tepat."
Padahal tidak ada yang menjamin kita masih hidup sampai “nanti”.
Allah SWT berfirman:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُونَ
"Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai
orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." ( Qs. An-Nur:
3`1 )
Perhatikan, Allah memanggil:
أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman."
Ini menunjukkan bahwa taubat bukan hanya untuk orang yang
merasa dirinya sangat berdosa. Orang saleh pun perlu bertaubat.
Orang yang rajin beribadah pun perlu bertaubat.
Karena manusia tidak pernah luput dari kesalahan.
KESEMPATAN HIDUP ADALAH NIKMAT
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kalau hari ini kita masih hidup, sebenarnya Allah sedang
memberikan kepada kita kesempatan yang sangat besar.
Kesempatan untuk memperbaiki salat.
Kesempatan untuk membaca Al-Qur'an.
Kesempatan untuk bersedekah.
Kesempatan untuk berbakti kepada orang tua.
Kesempatan untuk meminta maaf kepada pasangan.
Kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan saudara.
Kesempatan untuk meninggalkan dosa.
Kesempatan untuk bertaubat.
Jangan tunggu kehilangan sesuatu baru kita menyadari
nilainya.
Sering kali seseorang baru sadar betapa berharganya kesehatan
ketika sudah sakit.
Baru sadar betapa berharganya orang tua ketika mereka sudah
meninggal.
Baru sadar betapa berharganya waktu ketika usia sudah tua.
Dan manusia baru benar-benar menyadari nilai kesempatan
beramal ketika kematian telah datang.
ORANG CERDAS ADALAH ORANG YANG MEMPERSIAPKAN AKHIRAT
Rasulullah ﷺ
bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
Artinya:
"Orang yang cerdas adalah orang yang mengevaluasi
dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian." (HR. Tirmidzi)
Jamaah rahimakumullah,
Dalam pandangan manusia, orang cerdas mungkin adalah orang
yang memiliki pendidikan tinggi.
Orang yang mempunyai banyak harta.
Orang yang mempunyai jabatan.
Tetapi Rasulullah ﷺ
memberikan ukuran kecerdasan yang lebih dalam:
Orang cerdas adalah orang yang mempersiapkan kehidupan
setelah kematian.
Maka marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing:
Sudahkah kita memperbaiki salat?
Sudahkah kita meninggalkan dosa yang kita tahu?
Sudahkah kita meminta maaf kepada orang yang pernah kita
sakiti?
Sudahkah kita berbakti kepada orang tua?
Sudahkah kita memberikan hak keluarga kita?
Sudahkah kita memperbanyak sedekah?
Sudahkah kita membaca Al-Qur'an?
Dan yang paling penting:
Jika hari ini Allah memanggil kita, apakah kita sudah siap
menghadap-Nya?
JANGAN MENJADI ORANG YANG MENYESAL
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Allah menggambarkan penyesalan manusia pada saat kematian
datang.
Allah berfirman:
رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ
"Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia, agar aku dapat
berbuat kebajikan terhadap yang telah aku tinggalkan." (QS. Al-Mu'minun: 99–100)
Lihatlah jamaah.
Ketika kematian datang, manusia meminta:
“Ya Allah, kembalikan aku.” Mengapa?
Bukan karena ingin kembali membeli rumah.
Bukan karena ingin kembali membeli kendaraan.
Bukan karena ingin kembali mengejar jabatan.
Tetapi karena ingin beramal saleh.
Namun Allah tidak mengembalikannya.
Karena dunia adalah tempat beramal.
Sedangkan akhirat adalah tempat menerima balasan.
Hari ini kita masih berada di tempat beramal.
Hari ini kita masih memiliki kesempatan.
Maka jangan sia-siakan.
APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Ada beberapa hal yang dapat kita mulai dari hari ini.
Pertama, perbaiki salat.
Jangan biarkan kesibukan dunia membuat kita meninggalkan
kewajiban yang paling utama.
Kedua, perbanyak istighfar dan taubat.
Jangan merasa dosa kita terlalu banyak sehingga tidak layak
kembali kepada Allah.
Allah Maha Pengampun.
Ketiga, perbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Jangan membawa dendam sampai mati.
Jika kita salah, mintalah maaf.
Jika orang lain salah kepada kita, belajarlah memaafkan.
Keempat, perbanyak amal yang bermanfaat.
Sedekah, membantu orang lain, mengajarkan ilmu, membaca
Al-Qur'an, berbakti kepada orang tua, dan berbagai amal kebaikan.
Kelima, persiapkan bekal akhirat.
Allah berfirman:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah
takwa."
(QS. Al-Baqarah: 197)
PENUTUP KHUTBAH PERTAMA
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Jangan menunggu menjadi tua untuk bertobat.
Jangan menunggu sakit untuk mengingat Allah.
Jangan menunggu kehilangan untuk bersyukur.
Jangan menunggu kematian untuk beramal.
Dan jangan sampai kita menjadi seperti yang digambarkan dalam
QS. Al-Mulk ayat 11:
فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ
"Mereka mengakui dosa mereka."
Semoga kita menjadi orang yang mengakui kesalahan ketika
masih hidup, bertaubat sebelum mati, dan memperbaiki diri sebelum datang hari
perhitungan.
أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ
وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ
لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي
بِتَقْوَى اللّٰهِ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita simpulkan khutbah hari ini.
Pertama: kematian adalah sesuatu yang pasti.
Kedua: dunia adalah tempat untuk beramal, bukan tempat untuk
hidup selamanya.
Ketiga: penyesalan di akhirat tidak lagi berguna.
Keempat: selama kita masih hidup, pintu taubat dan kesempatan
beramal masih terbuka.
Karena itu, jangan menunda kebaikan.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً
نَّصُوحًا
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada
Allah dengan tobat yang semurni-murninya." (QS. At-Tahrim: 8)
Mari kita pulang dari masjid ini dengan satu tekad:
Tekad untuk memperbaiki salat saya.
Tekad untuk meninggalkan dosa saya.
Tekad untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga dan sesama.
Tekad untuk memperbanyak amal saleh.
Semoga kita menjadi hamba yang ketika kembali
kepada Allah mendapatkan panggilan:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ
رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu
dengan hati yang rida dan diridai-Nya." (QS. Al-Fajr: 27–28)
DOA PENUTUP
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا، وَلِوَالِدَيْنَا،
وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua
kami, dan dosa seluruh kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik
yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.
اللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا، وَاغْفِرْ ذُنُوْبَنَا، وَاسْتُرْ
عُيُوْبَنَا، وَارْحَمْ ضَعْفَنَا.
Ya Allah, terimalah taubat kami, ampunilah dosa-dosa kami,
tutupilah aib-aib kami, dan rahmatilah kelemahan kami.
اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوْبَنَا، وَأَصْلِحْ أَعْمَالَنَا،
وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا.
Ya Allah, perbaikilah hati kami, amal kami, dan keadaan kami.
اللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا تَوْبَةً نَصُوْحًا قَبْلَ الْمَوْتِ،
وَرَاحَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً بَعْدَ الْمَوْتِ.
Ya Allah, karuniakanlah kepada kami taubat yang
sebenar-benarnya sebelum kematian, ketenangan ketika kematian, serta ampunan
dan rahmat setelah kematian.
اللّٰهُمَّ احْسِنْ خَاتِمَتَنَا، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا
خَوَاتِمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.
Ya Allah, perbaikilah akhir kehidupan
kami. Jadikan amal terbaik kami sebagai penutup amal kami, dan jadikan hari
terbaik kami adalah hari ketika kami bertemu dengan-Mu.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً،
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا
وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
Ya Allah, jangan Engkau jadikan kami orang-orang yang
menyesal di akhirat.
Jadikanlah kami hamba-Mu yang senantiasa bertaubat,
memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, dan meninggal dalam keadaan husnul
khatimah.
إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي
الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى
نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا
تَصْنَعُونَ.










































































