Catatan Saat Berdua

Catatan Tentang Kita Berdua tak Akan Ada Akhirnya .

Catatan Keluargaku

Ini adalah Catatan Kebahagian kita Kebahagiaan Dalam Bingkai Keluarga.

Catatan Tentang Kita

Catatan yang Paling Indah adalah Kita Jadikan Keluarga ini Tempat Kebahagiaan.

Catatatn : Anakku

Akan Tetap Terselip Diantara Untaian Doa kami Untuk Kebahagian Dunia dan Akhirat mu.

Catatan Abadi

Seandainya Aku Dihidupkan Kembali, Aku Akan Tetap Memilih Kalian Jadi Bagian Keluargaku.

Catatan : Aku

Ini Adalah Catatan Agar Aku Tak Lupa Bahwa banyak Catatan tentang Kita.

Catatan : Kita

Aku, Kau dan Kalian adalah Kita.

Catatan : Bahagia

Catatan Penting : Kita Raih Bahagia Bersama.

Catatan : Dirimu

Kalau Boleh Jujur...Aku Beruntung Kau Jadi bagian Hidupku.

Sabtu, 22 Agustus 2026

3 Sikap Orang Islam Atas Jalan Yang Lurus



KHUTBAH JUMAT

ADA 3 KELOMPOK SIKAP MANUSIA ATAS JALAN YANG LURUS

OLEH : ERWIN TANJUNG

 

KHUTBAH PERTAMA

 

الْحَمْدُ للَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ:

 

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

 

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

 

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Takwa adalah satu-satunya bekal terbaik yang akan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat.

 

Setiap hari, minimal 17 kali dalam salat fardu, kita membaca Surat Al-Fatihah. Di dalam surat yang mulia ini, terdapat satu doa yang paling sering kita ulang, yaitu:

 

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

 

"Tunjukkanlah kami jalan yang lurus." (QS. Al-Fatihah: 6)

 

Doa ini bukan sekadar permohonan biasa, melainkan kebutuhan paling mendasar dalam hidup seorang muslim. Setiap Kita melaksanakan ibadah sholat ayat ini terus baca untuk  memohon hidayah agar selalu dibimbing di atas Shiratal Mustaqim—jalan ketauhidan, syariat Islam, dan kebenaran yang membawa kita menuju ridha serta surga-Nya.

 

Pentingnya memohon petunjuk ini ditegaskan dalam sebuah Hadis Qudsi, di mana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

 

يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ

 

"Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua adalah orang yang sesat kecuali yang Aku beri petunjuk. Maka memohonlah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku akan memberi petunjuk kepadamu." (HR. Muslim no. 2577)

 

Jamaah yang dirahmati Allah,

 

Pada ayat selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan tiga kelompok manusia berdasarkan sikap mereka terhadap hidayah:

 

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

 

"(Yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (QS. Al-Fatihah: 7)

 

1. Kelompok Pertama: Orang-Orang yang Diberi Nikmat (An'amta 'Alaihim)

 

Kelompok ini adalah mereka yang berhasil meraih hidayah dengan menggabungkan antara ilmu yang benar dan amal yang ikhlas. Mereka tahu kebenaran, lalu tunduk mengamalkannya. Kelompok ini adalah kelompok yang tidak saja mengucapkan doa tetapi secara aktif mencari mana jalan yang lurus. Berusaha agar jalan yang dilewati adalah jalan yang lurus. Mencari jalan yang lurus dengan ilmu .

 

Siapakah mereka? Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskannya dalam Al-Qur'an:

 

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

 

"Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para siddiiqiin (orang-orang yang jujur keimanannya), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (QS. An-Nisa: 69)

 

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga bersabda tentang pentingnya ilmu yang membuahkan amal:

 

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

 

"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim no. 2699)

 

2. Kelompok Kedua: Orang-Orang yang Dimurkai (Al-Maghdhubi 'Alaihim)

 

Kelompok kedua ini adalah orang-orang yang berilmu dan tahu kebenaran, tetapi enggan mengamalkannya. Mereka menolak syariat karena kesombongan, hawa nafsu, atau kepentingan duniawi.

 

Mengenai ancaman bagi orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

 

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

 

"Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. As-Saff: 3)

 

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga menafsirkan siapa kelompok yang dimurkai ini secara spesifik dalam hadis dari 'Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu:

 

الْمَغْضُوبُ عَلَيْهِمْ: الْيَهُودُ

 

"Orang-orang yang dimurkai itu adalah kaum Yahudi." (HR. Tirmidzi no. 2954, shahih)

 

Sifat dasar kaum Yahudi yang disebutkan dalam hadis ini adalah mereka mengetahui kitab dan syariat Allah, namun sengaja membangkang dan melanggarnya. Siapa saja dari umat ini yang memiliki ilmu tetapi enggan mengamalkannya, maka ia telah meniru perangai buruk tersebut.

 

3. Kelompok Ketiga: Orang-Orang yang Sesat (Adh-Dhallin)

 

Kelompok ketiga adalah orang-orang yang beramal dan beribadah tanpa didasari ilmu yang benar. Boleh jadi mereka berniat baik. Mereka ingin menjalankan ibadah. Namun caranya salah karena berlandaskan kebodohan dan keikut-ikutan semata. Beramal beribadah tanpa dasar yang benar. Akhirnya mereka tersesat dalam menjalankan ibadah. Mereka adalah orang-orang yang rugi.

 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang kerugian orang-orang yang beramal tanpa ilmu dan petunjuk wahyu:

 

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا * الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

 

"Katakanlah: 'Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?' Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya." (QS. Al-Kahfi: 103-104)

 

 

Maka, setiap amalan yang dikerjakan tanpa ilmu agama yang benar, tanpa landasan yang kuat akan tertolak, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam:

 

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

 

"Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak." (HR. Muslim no. 1718)

 

Hadirin sidang Jumat yang berbahagia,

 

Dari tiga kelompok ini, kita dapat menyimpulkan bahwa kunci keselamatan hanya ada pada gabungan antara ilmu dan amal:

·         Berilmu tanpa amal memicu murka Allah (Al-Maghdhubi 'Alaihim).

·         Beramal tanpa ilmu membawa pada kesesatan (Adh-Dhallin).

·         Berilmu dan beramal membawa kita pada nikmat hidayah (An'amta 'Alaihim).

 

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KHUTBAH KEDUA

 

الْحَمْدُ للَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى توَفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.

 

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى.

 

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

 

Di dalam Khutbah Kedua ini, marilah kita senantiasa menjaga keteguhan iman dan hidayah yang telah Allah karuniakan kepada kita. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan dalam Al-Qur'an agar kita senantiasa memegang teguh petunjuk-Nya sampai akhir hayat:

 

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

 

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr: 18)

 

Maka dari itu, marilah kita terus menuntut ilmu agama agar terhindar dari kesesatan, mengamalkannya dengan ikhlas agar terhindar dari murka Allah, serta senantiasa memohon keteguhan hati di atas jalan-Nya yang lurus.

 

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kita untuk bersalawat kepada Nabi-Nya:

 

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

 

 

 

 (DOA KHUTBAH)

 

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

 

Ya Allah, ampunilah dosa seluruh kaum muslimin dan muslimat, serta kaum mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

 

اللَّهُمَّ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ.

 

Ya Allah, tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.

 

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

 

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu adalah benar dan berikanlah kami kekuatan untuk mengikutinya; serta tunjukkanlah kepada kami bahwa yang batil itu adalah batil dan berikanlah kami kekuatan untuk menjauhinya.

 

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

 

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.

 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

 

Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.

 

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ. وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

 


Jumat, 21 Agustus 2026

Khutbah Jumat : Jangan Menunggu Penyesalan di Akhirat

KHUTBAH JUMAT

JANGAN MENUNGGU PENYESALAN DI AKHIRAT

Renungan QS. Al-Mulk Ayat 11

Oleh : Erwin Tanjung

 

KHUTBAH PERTAMA

Pembukaan

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ.

 

 

 

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT yang sampai hari ini masih memberikan kepada kita nikmat iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan, nikmat kesempatan, dan yang paling penting, nikmat kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad , kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti ajarannya hingga hari kiamat.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Takwa bukan hanya berarti takut kepada Allah. Takwa berarti menjaga diri agar kehidupan kita selalu berada dalam ketaatan kepada Allah, menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan selalu mengingat bahwa suatu hari nanti kita akan kembali menghadap kepada-Nya.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Tema khutbah kita hari ini adalah:

“Jangan Menunggu Penyesalan di Akhirat.”

Mengapa tema ini penting?

Karena manusia sering kali menyadari kesalahan setelah semuanya terlambat.

Ketika masih sehat, kita sering lupa bahwa suatu saat kita akan sakit.

Ketika masih muda, kita lupa bahwa suatu saat kita akan tua.

Ketika memiliki waktu, kita sering mengatakan, “Nanti saja.”

Ketika memiliki kesempatan beribadah, kita mengatakan, “Besok saja.”

Ketika mempunyai kesempatan meminta maaf, kita berkata, “Nanti kalau sudah tenang.”

Padahal kita tidak pernah tahu apakah kita masih memiliki hari esok.

Allah SWT menggambarkan penyesalan manusia di akhirat dalam QS. Al-Mulk ayat 10–11.

Allah berfirman:

 

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ ۝ فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِّأَصْحَابِ السَّعِيرِ

Artinya:

“Dan mereka berkata, ‘Sekiranya dahulu kami mendengarkan atau memikirkan, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.’ Maka mereka mengakui dosanya. Tetapi jauhlah mereka dari rahmat Allah bagi penghuni neraka yang menyala-nyala.”

Jamaah rahimakumullah,

Perhatikan kalimat mereka:

لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ

"Sekiranya dahulu kami mau mendengarkan atau mau berpikir..."

 

Ada kata “sekiranya”.

Tetapi pada saat itu, kata “sekiranya” sudah tidak berguna.

Mereka menyesal.

Mereka mengakui kesalahan.

Mereka menyadari bahwa peringatan para rasul adalah benar.

Tetapi kesempatan untuk kembali ke dunia sudah tidak ada.

 

PENYESALAN TERBESAR DI AKHIRAT

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Manusia di dunia sering takut kehilangan harta.

Takut kehilangan pekerjaan.

Takut kehilangan jabatan.

Takut kehilangan rumah.

Takut kehilangan kendaraan.

Takut kehilangan orang yang dicintai.

Tetapi sering kali kita tidak takut kehilangan kesempatan untuk beramal.

Padahal yang akan kita bawa ketika meninggalkan dunia bukan rumah kita.

Bukan kendaraan kita.

Bukan jabatan kita.

Bukan uang kita.

Yang akan menemani kita adalah amal kita.

Rasulullah bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ، وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ

Artinya:

“Ada tiga hal yang mengikuti jenazah: keluarganya, hartanya dan amalnya. Dua di antaranya akan kembali, sedangkan satu akan tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya akan kembali, sementara amalnya akan tetap bersamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jamaah sekalian,

Ketika seseorang meninggal dunia, keluarganya akan mengantarkan sampai pemakaman.

Setelah itu mereka pulang.

Rumahnya kembali kepada keluarga.

Hartanya dibagikan.

Jabatannya digantikan.

Tetapi amalnya tetap bersamanya.

Karena itu, jangan sampai kita terlalu sibuk mengumpulkan sesuatu yang akan kita tinggalkan, tetapi lupa mempersiapkan sesuatu yang akan kita bawa.

 

KEHIDUPAN DUNIA HANYALAH SEMENTARA

Allah SWT berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati." ( Qs. Ali Imran: 185 ()

Ayat ini sangat sederhana, tetapi sangat dalam.

Allah tidak mengatakan:

“Sebagian manusia akan mati.”

Allah mengatakan:

كُلُّ نَفْسٍ

Setiap jiwa.

Artinya, tidak ada seorang pun yang akan selamanya hidup di dunia.

Orang kaya akan mati.

Orang miskin akan mati.

Pejabat akan mati.

Rakyat akan mati.

Orang terkenal akan mati.

Orang yang tidak dikenal juga akan mati.

Kita semua akan kembali kepada Allah.

Persoalannya bukan apakah kita akan mati.

Persoalannya adalah:

Apa yang sudah kita siapkan untuk menghadapi kematian?

 

JANGAN MENUNDA TAUBAT

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Salah satu tipu daya setan adalah membuat manusia merasa masih memiliki banyak waktu.

Ketika ingin beribadah, setan membisikkan:

"Nanti saja."

Ketika ingin membaca Al-Qur'an:

"Besok saja."

Ketika ingin bersedekah:

"Nanti kalau sudah kaya."

Ketika ingin memperbaiki salat:

"Nanti kalau sudah tua."

Ketika ingin meminta maaf:

"Tunggu waktu yang tepat."

Padahal tidak ada yang menjamin kita masih hidup sampai “nanti”.

Allah SWT berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." ( Qs. An-Nur: 3`1 )

Perhatikan, Allah memanggil:

أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman."

Ini menunjukkan bahwa taubat bukan hanya untuk orang yang merasa dirinya sangat berdosa. Orang saleh pun perlu bertaubat.

Orang yang rajin beribadah pun perlu bertaubat.

Karena manusia tidak pernah luput dari kesalahan.

 

KESEMPATAN HIDUP ADALAH NIKMAT

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Kalau hari ini kita masih hidup, sebenarnya Allah sedang memberikan kepada kita kesempatan yang sangat besar.

Kesempatan untuk memperbaiki salat.

Kesempatan untuk membaca Al-Qur'an.

Kesempatan untuk bersedekah.

Kesempatan untuk berbakti kepada orang tua.

Kesempatan untuk meminta maaf kepada pasangan.

Kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan saudara.

Kesempatan untuk meninggalkan dosa.

Kesempatan untuk bertaubat.

Jangan tunggu kehilangan sesuatu baru kita menyadari nilainya.

Sering kali seseorang baru sadar betapa berharganya kesehatan ketika sudah sakit.

Baru sadar betapa berharganya orang tua ketika mereka sudah meninggal.

Baru sadar betapa berharganya waktu ketika usia sudah tua.

Dan manusia baru benar-benar menyadari nilai kesempatan beramal ketika kematian telah datang.

 

 

 

ORANG CERDAS ADALAH ORANG YANG MEMPERSIAPKAN AKHIRAT

Rasulullah bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

Artinya:

"Orang yang cerdas adalah orang yang mengevaluasi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian." (HR. Tirmidzi)

Jamaah rahimakumullah,

Dalam pandangan manusia, orang cerdas mungkin adalah orang yang memiliki pendidikan tinggi.

Orang yang mempunyai banyak harta.

Orang yang mempunyai jabatan.

Tetapi Rasulullah memberikan ukuran kecerdasan yang lebih dalam:

Orang cerdas adalah orang yang mempersiapkan kehidupan setelah kematian.

Maka marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing:

Sudahkah kita memperbaiki salat?

Sudahkah kita meninggalkan dosa yang kita tahu?

Sudahkah kita meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti?

Sudahkah kita berbakti kepada orang tua?

Sudahkah kita memberikan hak keluarga kita?

Sudahkah kita memperbanyak sedekah?

Sudahkah kita membaca Al-Qur'an?

Dan yang paling penting:

Jika hari ini Allah memanggil kita, apakah kita sudah siap menghadap-Nya?

 

JANGAN MENJADI ORANG YANG MENYESAL

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Allah menggambarkan penyesalan manusia pada saat kematian datang.

Allah berfirman:

رَبِّ ارْجِعُونِ ۝ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

"Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia, agar aku dapat berbuat kebajikan terhadap yang telah aku tinggalkan."  (QS. Al-Mu'minun: 99–100)

Lihatlah jamaah.

Ketika kematian datang, manusia meminta:

“Ya Allah, kembalikan aku.”  Mengapa?

Bukan karena ingin kembali membeli rumah.

Bukan karena ingin kembali membeli kendaraan.

Bukan karena ingin kembali mengejar jabatan.

Tetapi karena ingin beramal saleh.

Namun Allah tidak mengembalikannya.

Karena dunia adalah tempat beramal.

Sedangkan akhirat adalah tempat menerima balasan.

Hari ini kita masih berada di tempat beramal.

Hari ini kita masih memiliki kesempatan.

Maka jangan sia-siakan.

APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Ada beberapa hal yang dapat kita mulai dari hari ini.

Pertama, perbaiki salat.

Jangan biarkan kesibukan dunia membuat kita meninggalkan kewajiban yang paling utama.

Kedua, perbanyak istighfar dan taubat.

Jangan merasa dosa kita terlalu banyak sehingga tidak layak kembali kepada Allah.

Allah Maha Pengampun.

Ketiga, perbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Jangan membawa dendam sampai mati.

Jika kita salah, mintalah maaf.

Jika orang lain salah kepada kita, belajarlah memaafkan.

Keempat, perbanyak amal yang bermanfaat.

Sedekah, membantu orang lain, mengajarkan ilmu, membaca Al-Qur'an, berbakti kepada orang tua, dan berbagai amal kebaikan.

Kelima, persiapkan bekal akhirat.

Allah berfirman:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa."

(QS. Al-Baqarah: 197)

PENUTUP KHUTBAH PERTAMA

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Jangan menunggu menjadi tua untuk bertobat.

Jangan menunggu sakit untuk mengingat Allah.

Jangan menunggu kehilangan untuk bersyukur.

Jangan menunggu kematian untuk beramal.

Dan jangan sampai kita menjadi seperti yang digambarkan dalam QS. Al-Mulk ayat 11:

فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ

"Mereka mengakui dosa mereka."

Semoga kita menjadi orang yang mengakui kesalahan ketika masih hidup, bertaubat sebelum mati, dan memperbaiki diri sebelum datang hari perhitungan.

أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

 

 

 

 

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita simpulkan khutbah hari ini.

Pertama: kematian adalah sesuatu yang pasti.

Kedua: dunia adalah tempat untuk beramal, bukan tempat untuk hidup selamanya.

Ketiga: penyesalan di akhirat tidak lagi berguna.

Keempat: selama kita masih hidup, pintu taubat dan kesempatan beramal masih terbuka.

Karena itu, jangan menunda kebaikan.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya."     (QS. At-Tahrim: 8)

Mari kita pulang dari masjid ini dengan satu tekad:

Tekad untuk memperbaiki salat saya.

Tekad untuk meninggalkan dosa saya.

Tekad untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga dan sesama.

Tekad untuk memperbanyak amal saleh.

Semoga kita menjadi hamba yang ketika kembali kepada Allah mendapatkan panggilan:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۝ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya."   (QS. Al-Fajr: 27–28)

 

DOA PENUTUP

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا، وَلِوَالِدَيْنَا، وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa seluruh kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

اللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا، وَاغْفِرْ ذُنُوْبَنَا، وَاسْتُرْ عُيُوْبَنَا، وَارْحَمْ ضَعْفَنَا.

Ya Allah, terimalah taubat kami, ampunilah dosa-dosa kami, tutupilah aib-aib kami, dan rahmatilah kelemahan kami.

اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوْبَنَا، وَأَصْلِحْ أَعْمَالَنَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا.

Ya Allah, perbaikilah hati kami, amal kami, dan keadaan kami.

 

اللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا تَوْبَةً نَصُوْحًا قَبْلَ الْمَوْتِ، وَرَاحَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً بَعْدَ الْمَوْتِ.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami taubat yang sebenar-benarnya sebelum kematian, ketenangan ketika kematian, serta ampunan dan rahmat setelah kematian.

اللّٰهُمَّ احْسِنْ خَاتِمَتَنَا، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.

Ya Allah, perbaikilah akhir kehidupan kami. Jadikan amal terbaik kami sebagai penutup amal kami, dan jadikan hari terbaik kami adalah hari ketika kami bertemu dengan-Mu.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.

Ya Allah, jangan Engkau jadikan kami orang-orang yang menyesal di akhirat.

Jadikanlah kami hamba-Mu yang senantiasa bertaubat, memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, dan meninggal dalam keadaan husnul khatimah.

إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.