Selasa, 30 Agustus 2011
Sekali Lagi Tentang Perbedaan Penetapan 1 Syawal
Seperti yang sudah diperkirakan, maka pada Hari Raya tahun ini terjadi perbedaan penetapan 1 Syawal. Beberapa Ormas Islam, seperti Muhammadiyah telah menetapkan jauh-jauh hari 1 Syawal jatuh pada tanggal 30 Agustus 2010. Sedangkan pemerintah dan ormas Islam lainnya pada sidang isbat yang dipimpin oleh Menteri Agama menetapkan tanggal 31 Agustus 2011. Perbedaan ini hal yang biasa dan selalu terjadi. Namun begitupun tetap saja ummat Islam bingung. Mengapa hal ini terjadi ? Apalagi sidang isbat berlangsung lama sehingga keputusan pemerintah tentang 1 Syawal juga relatif lama. Di samping itu masyarakat Islam tertunggu-tunggu. Hal inilah yang membuat masyarakat menjadi bingung. Harapan masyarakat tentu sangat sederhana jika pemerintah ingin menetapkan 1 Syawal tentu dapat diputuskan paling lama 30 menit setelah matahari terbenam.Apalagi pertimbangan-pertimbangan penetapan itu sudah diketahui dari berbagai masukan dari ormas Islam. Setelah itu baru diminta masukan-masukan ormas Islam atau ahli untuk perbaikan ke depan.
Mengapa terjadi perbedaan ?
Jawaban ini yang harus disampaikan kepada masyarakat agar masyarakat cerdas beragama. Perbedaan pandangan dalam Islam tentu sesuatu yang sering terjadi. Adanya berbagai mazhab dalam memandang hukum/fiqh Islam itu menunjukkan adanya pandangan yang berbeda. Hal inilah yang harus kita beri pemahaman kepada ummat mengapa terjadi perbedaan. Jika ummat sudah memahami ini tentu tidak akan muncul saling menyalahkan atau saling menghujat.
Bukan tidak mungkin perbedaan ini akan dapat diselesaikan dengan cara mengambil titik temu yang bisa dilakukan. Mungkin sampai saat ini titik temu itu belum ada.
Secara sederhana dalam bahasa awam penentuan 1 Syawal itu ada dua cara. Pertama, melihat langsung bulan. Kedua, dengan ilmu falak atau disebut secara hisab. Melihat langsung bulan bisa dengan memakai mata telanjang atau dengan alat ( teropong ). Jika memakai mata telanjang tentu ini sangat riskan sekali karena keterbatasan mata memandang. Oleh sebab itu, konon dulu ketinggian bulan ( hilal )ditetapkan sampai 5 - 6 derajat. Semakin lama derjat ketinggian diturunkan menjadi 4 dan sekarang ditetapkan menjadi 2 derjat.Oleh sebab itu dipastikan bahwa dengan mata telanjang dibawah ketinggian 2 derjat hilal tidak akan terlihat.
Dengan alat bantu tentu dibawah dua derjat akan terlihat.
Sedang dengan ilmu falaq ( termasuk ilmu pasti )atau dengan hisab peredaran bulan akan dapat terlihat dengan jelas sudah berapa derajat ketinggian hilal. Oleh sebab itu dengan cara hisab sudah dapat dilihat masuk bulan walaupun hanya beberapa derjat ( dibawah 2 derajat )
Permasalahannya timbul, karena skala derajat yang sudah disepakati harus di atas 2 derajat. Disinilah permasalahannya muncul sehingga terjadi perbedaan. Padahal seluruh ahli seluruh ormas Islam jelas menbunjukkan ketinggian hilal walaupun masih di bawah 2 derajat. jika skala derajat diturunkan, misalnya menjadi 1 derajat atau tanpa sama sekali tentu perbedaan penetapan 1 Sayawal tidak akan terjadi.
Hanya masalahnya, sebagian ormas Islam masih memandang kewajiban sebagai syarat mutlak untuk menentukan khusus untuk penetapan 1 Ramadhan dan Syawal harus dengan melihat dengan mata telanjang sebagaimana perintah Rasul.
Kalaulah cara pandang ini tidak menemukan titik temu, maka dapat dipastikan perbedaan penentuan 1 Syawal akan berlanjut terus.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432H. Taqobballahu Minna Wa Minkum. Mohon maaf lahir dan bathin
Minggu, 24 April 2011
Metodologi Pembelajaran Bahasa Indonesia
Minggu, April 24, 2011
No comments
Check out this SlideShare Presentation:
Kamis, 27 Januari 2011
Alam Lumbini - Berastagi
Kabupaten Karo punya wisata religius khususnya bagi ummat Budha, yaitu Pagoda Lumbini yang terletak di Berastagi. Jika dari arah Medan setelah Tahura ( Taman Hutan Rakyat) belok kiri menuju desa Basam.
Selain rumah ibadah Pagoda Lumbini, daerah ini ini juga disulap dengan tempat wisata lain dengan pernak pernik untuk wisata alam. Maka tak heran selain melihat Pagoda Lumbini yang didominasi warna kuning keemasan banyak dikunjungi oleh masyarakat yang bukan beragama Budha.Konon kabarnya Pagoda Lumbini di Berastagi merupakan prototipe dari Pagoda Lumbini yang ada di India dan terbesar kedua di Asia.
Tanggal 23 Januari 2011, saya berkesempatan menmgunjungi Pagoda Lumbini bersama keluarga. Ada kebanggaan tersendiri Tanah Karo dijadikan tempat pendirian rumah ibadah ini dengan harapan dapat menjadi alternatif wisata sekaligus menambah kerukunan ummat beragama untuk di Tanah Karo Simalem ini.Sabtu, 25 Desember 2010
Pengajian Akbar BKMT Kec.Naman Teran di desa Kuta Rakyat
Minggu, 19 Desember 2010
Peresmian Masjid Desa Rumah Kabanjahe
Minggu, Desember 19, 2010
No comments
Alhamdulillah, tidak berapa lama lagi desa Rumah Kabanjahe akan memiliki masjid sebagai tempat ibadah dan kegiatan dakwah. Hal ini ditandai dengan dimulainya peresmian pembangunan masjid yang diberi nama Masjid Amal Bakti dengan mengadakan GAS ( Gerakan Amal Soleh ). Alhamduilillah hasil pengumpulan sumbangan ini terkumpul biaya yang diperlukan untuk pembangunan masjid desa Rumah Kabanjahe Kec.Kabanjahe. Peresmian dan penggalangan dana ini dihadiri oleh tokoh-tokoh agama,antara lain: H.Mulia Purba, H.Sajidan Selian,Drs.H.Erwin Tanjung, H.Bakhtiar ( Kepala cabang BNI Kabanjahe )Tokoh Muda Ganding Sitepu. Selain itu juga dihadiri oleh lembaga pembina keagamaan dari Nangroe Aceh darussalam ( PT Arun ). Pada acara tersebut juga dihadiri Calon Bupati Karo Jambi dab Wakilnya Terkelin Purba. Disamping juga dihadiri oleh para undangan baik dari ormas , pengajian dan tokoh masyarakat.
MUI Kab.Karo Hadiri Acara Muzakkarah 1 Muharram
Rabu, 01 Desember 2010
TEKAD
jatuh
dan jatuh lagi
kalah
kembali kalah
tak mampu bertahan
tak punya daya tahan
yang tangguh
untuk kalahkan
angan-angan kosong
dan aku
selalu tak mampu bertahan
untuk berdiri tegak
menjauhi bayang-bayang
( Aku tak ingin kalah lagi )
Kabanjahe, 30 November 2010
Langganan:
Postingan (Atom)














