Kamis, 23 Juli 2026

ISTIQOMAH DI TENGAH PUSARAN FITNAH ZAMAN



Allah ﷻ berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya : "Maka tetaplah engkau (Muhammad) pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu, dan demikian pula orang-orang yang telah bertobat bersamamu. Dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Hud 11:112)

Di zaman yang penuh gejolak ini, mempertahankan iman sering kali terasa lebih berat daripada mengucapkan syahadat. Setiap hari kita disuguhi berbagai fitnah yang datang silih berganti. 

Fitnah harta, jabatan, kekuasaan, syahwat, media sosial, informasi yang menyesatkan, hingga budaya yang perlahan mengikis rasa malu, kejujuran, dan kecintaan kepada agama. Tidak sedikit orang yang dahulu rajin beribadah, kini mulai lalai. 

Yang dahulu lembut lisannya, kini mudah mencaci. Yang dahulu menjaga ukhuwah, kini mudah terpecah oleh perbedaan.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:

يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Artinya : "Seseorang pada pagi hari masih beriman, namun pada sore hari menjadi kafir. Atau pada sore hari beriman, lalu pagi harinya menjadi kafir. Ia menjual agamanya demi sedikit keuntungan dunia." (HR. Muslim)

Hadis ini tidak sekedar mengingatkan, melainkan agar kita selalu waspada setiap saat. Musuh terbesar seorang mukmin bukan hanya fitnah yang datang dari luar, tetapi juga kelalaian yang tumbuh berlahan di dalam hati dan terus dibiarkan. 

Karena itu, bekal paling berharga di akhir zaman bukan sekadar banyaknya ilmu, melainkan istiqomah tetap teguh di atas jalan Allah dalam keadaan lapang maupun sempit.

Istikomah bukan berarti tidak pernah jatuh. Istikomah adalah setiap kali tergelincir, segera bangkit dengan taubat. Ketika lalai, segera kembali mengingat Allah. Ketika hati mengeras, segera membasahinya dengan tilawah Al-Qur'an, zikir, doa, dan amal saleh. 

Allah tidak menuntut kita menjadi manusia yang sempurna, tetapi menjadi hamba yang terus kembali kepada-Nya. Hari ini dunia menawarkan banyak jalan pintas menuju kesenangan, tetapi hanya sedikit yang mengantarkan kepada keselamatan. 

Maka janganlah kita menjual akhirat demi kenikmatan yang sesaat. Jangan biarkan derasnya arus zaman menyeret kita menjauh dari Al-Qur'an, masjid, majelis ilmu, dan akhlak mulia. Jadilah seperti pohon yang akarnya menghujam kuat ke bumi; semakin kencang angin bertiup, semakin kokoh ia berdiri.

Sungguh mohonkan kepada Allah agar meneguhkan hati kita di atas agama-Nya hingga akhir hayat. Karena sesungguhnya keberuntungan bukanlah milik orang yang paling terkenal, paling kaya, atau paling berkuasa, tetapi milik mereka yang menghadap Allah dengan iman yang tetap terjaga.

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa :

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Artinya :"Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." (HR. at-Tirmidzi)

Istiqomah di tengah pusaran fitnah zaman adalah ujian terbesar umat Islam, di mana godaan syahwat dan syubhat serta tipu daya informasi datang tanpa henti. 

Sabda Rasulullah ﷺ : 

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

Artinya : "Akan datang suatu zaman kepada manusia, di mana orang yang bersabar mempertahankan agamanya bagaikan orang yang menggenggam bara api."(HR. at-Tirmidzi No. 2260.)

Hadis ini sangat relevan dengan kondisi umat saat ini. Menggenggam bara api adalah sesuatu yang secara naluriah ingin segera dilepaskan karena panasnya menyakitkan. Demikian pula seorang mukmin di akhir zaman. 

Ketika ia memilih jujur sementara kebohongan dianggap biasa, menjaga halal ketika yang haram mudah didapat, menundukkan pandangan saat maksiat tersebar, atau tetap menghadiri masjid ketika banyak orang lalai, ia akan menghadapi tekanan, ejekan, bahkan mungkin dikucilkan.

Namun justru di situlah letak kemuliaannya. Semakin berat ujian untuk mempertahankan agama, semakin besar pula pahala yang Allah sediakan. Karena itu, istiqomah bukanlah tanda bahwa jalan hidup kita akan selalu mudah, melainkan tanda bahwa kita memilih tetap berada di jalan yang benar meskipun penuh ujian.

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang istikomah, yang tidak tergoda oleh gemerlap dunia, tidak goyah oleh derasnya fitnah zaman, dan menutup usia dengan husnul khatimah.

*SEMOGA BERMANFAAT*

*Silahkan dishare tanpa merubah tulisan*
Sumber: Kajian Jendela Fajar

0 comments:

Posting Komentar