Quzman: Pasukan Muslim di Perang Tetapi Masuk Neraka

📌 Jawabannya adalah Quzman.

Dia adalah satu-satunya pasukan muslim di Perang Uhud yang paling ganas membunuh musuh, paling berani di barisan depan, semua sahabat memujinya sebagai calon ahli Surga. Tapi Rasulullah ﷺ justru bersabda: "Sesungguhnya dia termasuk penghuni Neraka."

Jika Masjid Dhirar mengajarkan ada amal yang megah tapi dilaknat karena niatnya, maka Quzman mengajarkan ada jihad yang heroik tapi dilempar ke Neraka karena niatnya.

~ Siapa itu Quzman?

Quzman adalah seorang dari Bani Zhafar, penduduk Madinah. Ia dikenal tidak terlalu rajin ibadah dan dicurigai munafik karena tidak mau ikut Perang Uhud.

Namun di hari Uhud, tiba-tiba ia muncul dengan persenjataan lengkap dan bertarung seperti singa. Tidak ada satu pun pasukan Quraisy yang mendekatinya kecuali ia tebas.

Ia membunuh 7 atau 8 musuh sendirian. Luka-luka di tubuhnya sangat banyak. Para sahabat takjub.

Mereka datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata: "Ya Rasulullah, tidak ada di antara kami yang berjasa hari ini seperti Quzman!"

Maka Rasulullah ﷺ menjawab dengan jawaban yang mengejutkan semua orang:

هُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ

Artinya: "Dia termasuk penghuni Neraka." (HR. Bukhari dan Muslim)

Para sahabat gempar. Bagaimana mungkin orang yang membela Islam seberani itu masuk Neraka?

~ Dalil Shahih dan Sejarahnya

Kisah ini shahih, diriwayatkan dalam Shahih Bukhari & Muslim dan Sirah Nabawiyah.

Setelah Rasulullah ﷺ mengatakan itu, seorang sahabat bernama Aktsam bin Abi Al-Abbas mengikuti Quzman diam-diam untuk melihat akhirnya.

Aktsam melihat Quzman yang sudah berlumuran darah dan luka parah terbaring kesakitan. Luka itu membuatnya tidak tahan.

Akhirnya, Quzman tidak sabar atas rasa sakitnya. Ia mengambil anak panahnya sendiri, meletakkan gagangnya di tanah dan ujungnya di dadanya, lalu ia menusukkan dirinya sendiri hingga mati. Ia bunuh diri.

Aktsam pun berlari kembali kepada Rasulullah ﷺ sambil berteriak: "Allahu Akbar! Sungguh telah terbukti kebenaran sabdamu ya Rasulullah!"

Rasulullah ﷺ kemudian bersabda kalimat yang menjadi pelajaran hingga hari kiamat:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ

Artinya: "Sesungguhnya ada seseorang yang melakukan amalan penghuni surga menurut apa yang tampak di hadapan manusia, padahal ia termasuk penghuni neraka."
(HR. Bukhari no. 2898, Muslim no. 112)

Setelah ditelusuri, ternyata Quzman berperang bukan karena membela Allah dan Rasul-Nya.

Ketika ditanya sahabat Qatadah: "Kenapa kau berperang hari ini?"

Quzman menjawab: "Aku berperang demi harga diri kaumku. Agar orang-orang Quraisy tidak mengatakan Bani Zhafar pengecut. Bukan karena Islam."

Ia berperang karena Ashabiyah - fanatisme kesukuan, bukan karena takwa.

~ Hikmah Dibalik Kisah Quzman

1. Allah Tidak Melihat Hebatnya Amal Luar, Tapi Niat di Dalamnya.

Sama seperti Masjid Dhirar yang megah bangunannya tapi dilaknat, Quzman yang gagah berani jihadnya tapi dilempar ke neraka. Pelajaran: Di mata manusia ia pahlawan, di mata Allah ia pecundang. Karena niatnya bukan Lillahi Ta'ala.

2. Bahaya Penyakit Riya' dan Mencari Pujian Manusia.

Quzman ingin disebut pemberani oleh kaumnya. Banyak dari kita hari ini shalat, sedekah, berjihad di medsos, bukan karena Allah, tapi agar disebut alim, dermawan, paling membela agama. Padahal Rasulullah ﷺ menyebut itu Syirik Kecil yang halus.

3. Ujian Keikhlasan Lebih Berat Dari Ujian Fisik.

Berperang dan terluka itu berat. Tapi menjaga hati agar tetap ikhlas karena Allah saja, jauh lebih berat. Quzman gagal di ujian yang kedua, ujian yang tidak terlihat manusia.

4. Akhir Hayat Adalah Penentu, Bukan Awal yang Gemilang.

Quzman mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, dosa besar yang menghapus semua jasa perangnya. Rasulullah mengajarkan kita untuk selalu berdoa: Ya Muqallibal Qulub, tsabbit qalbi 'ala diinik - Wahai Pembolak-balik hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.

Jangan sampai kita seperti Quzman - di dunia dipuji manusia sebagai pejuang, tapi di akhirat dibanting ke Neraka karena salah niat.

Wallahu A'lam.

Sumber: Shahih Bukhari Kitabul Jihad was Siyar, Shahih Muslim, Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 2 Perang Uhud, Fathul Bari Ibnu Hajar.

0 Komentar